Pages

Sabtu, 31 Desember 2011

paman doblang - kantata takwa

 

paman doblang paman doblang
mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap
tanpa lampu tanpa lubang cahaya
oh pengap

mengemis cinta - edit

menyadari hina diri
aku butuh cinta-Nya menentramkam
tak ada sesal; kedamaian
 
takkan tercapai tanpa perjuangan; berkorban
apapun caranya mesti ditempuh
memang kesempatan nafas 'mengemis cinta-Nya'
tak tertolak selama meminta…

sebab itu, hati-hatilah dengan rasa

hal tersulit dan mungkin menyedihkan
bahkan -sangat- membingungkan bagi jiwa yang tak ada dendam
menimbulkan berjuta pertanyaan dan teka teki angan; 
-berakhir senyum-
  

ini bukan keangkuhan, kawan

wahai kawan…
terima kasih atas kabar yang kau bawa
hatiku sempat tergetar
namun, cobalah memahami aku!
aku yakin engkau mengerti

amanat ibuku


Ibu…
masih jelas terasa ketika dulu aku menggelantung erat dipundakmu
sungguh terasa ikhlasmu saat kepalaku bersandar pasrah pada bahumu; ketentramanku
begitu dekat bibirmu pada pangkal telingaku
lantang menyanyikan ketetapan Tuhan tulus iramamu
suci jiwamu, pegangan jiwa kami merengek bermanja-manja

sajak sebatang lisong - WS RENDRA

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka

perahu retak - franky s

 

aku heran, aku heran;
satu kenyang s'ribu kelaparan.
aku heran, aku heran;
keserakahan diangungkan..

Jumat, 30 Desember 2011

sederhanakan rasa

kesedihan bergilir kebahagiaan
padaku juga mereka
mesti tak berlebih! coba kesederhanaan;
merasakan, dan aku mengingat mereka

cintaku padamu

beginilah cintaku padamu
aku tahu berapa besar cintaku
hadir karena kuadakan
  
tak mengapa tak berbalas
bukan sekarang jawaban kuharap

biarlah tatapan mata

keadaan, tak selalu sesuai harapan.
banyak berharap; penderitaan jiwa.
-tidak pada harapan menuju Tuhan-
paksakan diri pahami arah jalan!
sebab; tujuan pasti, sering terlupakan kenyataan.

beda laki-laki dengan perempuan dalam mencintai

dalam buku tenggelamnya kapal van der wijk - buya HAMKA
   
Memang berbeda sekali perasaan jiwa laki-laki dengan perempuan, sebagaimana berlainnya kejadian tubuh kasarnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mencukupkan kehidupan dengan percintaan. Tetapi filsafat kedua belah pihak dalam perkara cinta, amat berbeda, laksana perbedaan siang dengan malam, tegasnya perbedaan Adam dengan Hawa.

sajak M. NATSIR kepada buya HAMKA (1959)

“DAFTAR”
Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
lama...

kadang-kadang,
di tengah-tengah si pongang mortir dan mitraleur,
dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
kudengar tingkahan irama sajakmu itu,
yang pernah kau hadiahkan kepadaku.
entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam “Daftar”.

sajak buya HAMKA kepada M. NATSIR (1957)

Kepada Saudaraku M. Natsir

meskipun bersilang keris di leher
berkilat pedang di hadapan matamu
namun yang benar kau sebut juga

do'a dalam sunyi - iwan fals


angin datang dari mana, merayapi lembah gunung
ada luka dalam duka, dilempar ke dalam kawah

Kamis, 29 Desember 2011

takkan sekedar khayalan

tak banyak tentangmu kutahu
keadaan mengajakku merasakanmu
kucukupkan sekarang; meyakinkanku
  
aku tak ragu; menentramkan jiwa
selama tak darimu, gelombang tak akan menumbangkanku!

bidadariku, aku akan butuh sikap cinta

bidadari kekasih hatiku,

engkau wanita adalah ciptaan Tuhan
segala padamu; penetapan wanita
jika sekarang kau mencintai lelaki, wajar
aku memahami siapa pun lelaki beruntung itu,
kelanjutannya, tetapan Tuhan juga

bahagia - pendapat nabi Muhammad saw

dalam buku tasauf modern - buya HAMKA

--------------------------
Dari Aisyah Radhiallahu'anha, bahwa pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, dengan apakah berkelebihan setengah manusia dari yang setengahnya?"

Rasulullah saw menjawab: "Dengan akal!"

aku - chairil anwar

chairil anwar
kalau sampai waktuku
‘ku mau tak seorang kan merayu
tidak juga kau

tak perlu sedu sedan itu

aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerjang

luka dan bisa kubawa berlari
berlari
hingga hilang pedih peri

dan aku akan lebih tidak perduli

aku mau hidup seribu tahun lagi..


Maret 1943


  

untukmu terkasih - iwan fals

 

kabut sunyi mulai merayap di hati
bayangmu s'makin sulit kucari
aku tak tahu harus berbuat apa
angin dan burung-burung pun membisu
ketika kutanya tentangmu, tentang getaran hatimu,
tentang apa saja yang bertalian dengan jiwamu..

(... jika saja tiap 1 orang berpunya mau membantu 1 orang yang tak berpunya, niscaya kemiskinan di negeri ini bisa sedikit teratasi ...)

aku ingin mencintaimu dengan sederhana - sapardi djoko damono

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



bidadariku

meski samar dalam ingatan
begitu jelas saat memandang
rupamu pancarkan tenang
genggam hatiku -terang jiwamu-

bertahun tak terlihat rupamu
belum tahu nama dimanamu
-sengaja- aku membisu sementara;
yakin pada harapanku

Tuhan selalu mendengar hati;
-penantianku untukmu-
tersenyumlah jika nafasku mencapaimu!
aku menyapamu...

-adik kelasku-

temanku menuju-Nya


dalam hati aku bertanya dan menjawab
ketetapan ini aku yakini kebenarannya
  
bagaimanapun aku butuh pada kelembutanmu
menjadi sandaranku pada jalan yang berbatu
setialah padaku meski karang angkuh menghadang

belajar bersyukur

dalam buku tenggelamnya kapal van der wijk - buya HAMKA
   
“Nikmat Ilahi ada di sekeliling tiap-tiap insan, ada di dusun, ada di kota, ada di gunung dan ada di lurah, ada di daratan dan ada di lautan. Tetapi nafsu tiada merasa puas, atau tidak ingat nikmat yang di kelilingnya itu; dia hanya melihat kekurangannya. Yang senantiasa diperhatikannya ialah nikmat yang ada di tempat lain, dan yang di tangan orang lain. Kelak kalau dia ada kesempatan pindah ke tempat yang dilihatnya itu, dia menyesal dan dia teringat pulang, yaitu pada hari yang tiada berguna padanya penjelasan lagi …”



 

belum ada judul - iwan fals



pernah kita sama-sama susah
terperangkap di dingin malam
terjerumus dalam lubang jalanan
digilas kaki sang waktu yang sombong
terjerat mimpi yang indah, lelap...

pernah kita sama-sama rasakan
panasnya mentari hanguskan hati
sampai saat kita nyaris tak percaya
bahwa roda nasib memang berputar
sahabat masih ingatkah, kau...

sementara hari terus berganti
engkau pergi dengan dendam membara, di hati...

cukup lama aku jalan sendiri
tanpa teman yang sanggup mengerti
hingga saat kita jumpa hari ini
tajamnya matamu tikam jiwaku
kau tampar bangkitkan aku, sobat...

sementara hari terus berganti
engkau pergi dengan dendam membara, di hati...