Pages

Kamis, 29 Desember 2011

bahagia - pendapat nabi Muhammad saw

dalam buku tasauf modern - buya HAMKA

--------------------------
Dari Aisyah Radhiallahu'anha, bahwa pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, dengan apakah berkelebihan setengah manusia dari yang setengahnya?"

Rasulullah saw menjawab: "Dengan akal!"

Kata Aisyah pula: "Dan akhirat?" "Dengan akal juga", kata beliau.

"Bukankah seorang manusia lebih dari manusia yang lain dari hal pahala lantaran amal ibadatnya?" kata Aisyah pula.

Rasulullah menjawab lagi: "Hai Aisyah, bukankah amal ibadat yang mereka kerjakan itu hanya menurut kadar akalnya? Sekedar ketinggian derajat akalnya, sebegitulah ibadat mereka dan menurut amal itu pula pahala yang diberikan kepada mereka."

Sabda Rasulullah pula: "Allah telah membagi akal kepada tiga bagian; siapa yang cukup mempunyai ketiga bagiannya, sempurnalah akalnya; kalau kekurangan walau sebagian, tidaklah ia terhitung orang yang berakal."

Orang bertanya: "Ya Rasulullah, manakah bagian yang tiga macam itu?"

Kata beliau: "Pertama baik ma'rifatnya dengan Allah, kedua, baik taatnya bagi Allah, ketiga, baik pula sabarnya atas ketentuan Allah."

Berkata setengah Hukama: "Tiap-tiap suatu di dalam alam ini ada batas perjalanannya. Tetapi akal tidak terbatas: adapun manusia bertingkat-tingkat di dalam derajat akalnya, laksana derajat wangi dari tiap-tiap bunga."

Dari sabda nabi itu, dapat kita ambil kesimpulan bahwa derajat bahagia manusia itu menurut derajat akalnya, karena akallah yang dapat membedakan antara baik dengan buruk; akal yang dapat mengagak-agihkan segala pekerjaan, akal yang menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup dunia ini. Bertambah sempurna, bertambah indah dan murni akal itu, bertambah pulalah tinggi derajat bahagia yang kita capai, sebab itu menurut kehendak Hadits tadi - Kepada kesempurnaan akallah kesempurnaan bahagia.