Ibu…
masih jelas terasa ketika dulu aku menggelantung erat dipundakmu
sungguh terasa ikhlasmu saat kepalaku bersandar pasrah pada bahumu; ketentramanku
begitu dekat bibirmu pada pangkal telingaku
lantang menyanyikan ketetapan Tuhan tulus iramamu
suci jiwamu, pegangan jiwa kami merengek bermanja-manja
air suci begitu dingin dipeluk pekat malam
tak akan tersentuh bagi jiwa yang kosong
keriput kulitmu sudah menjadi baja; Ibu
bergetar menambah keyakinanmu pada Dia yang tak pernah kau lihat
namun kau tak ragu Dia selalu menatap-mendengar pujianmu menghamba
kecemasanmu kau adukan nama kami;
air matamu yang tak pernah kering
air matamu yang tak pernah kering
membasahi jiwa kami yang mungkin hampir mengering tandus
Ibu…
perjalanan semu ini telah menggiring kami jauh pada matamu
namun, mata batinmu yang tak tumpul takkan melepaskan kami
dimanapun; kau merasakan rasa kami
besar dukamu saat kami dipermainkan keangkuhan diri-diri yang tak mengerti
Ibu…
zaman pun berubah membisu mengikuti jiwa-jiwa yang lupa
berbekal keyakinan; kami menghadapi kejamnya kenyataan
walau jalan kami di seberang; tetap berdampingan dan searahmu, Ibu
kita sama berjalan pada perjuangan harapan ridha-Nya
aku yakin engkau percaya pada kami;
terngiang jelas pesanmu melepas kami berjalan mengenal hidup;
kerelaanmu membuka tabir keridhaan-Nya pada kami
kami pun berjalan pasti dengan dekapan do’a; amanatmu menjadi bekal
“dimana dan bagaimanapun; jangan -sekalipun- kalian meninggalkan Tuhan”
Padang, 06 februari 2010