dalam buku tasauf modern - buya HAMKA
Iman artinya percaya.
Jika perkataan iman itu disendirikan, termasuklah kepadanya segala amalan yang lahir atau bathin. Berkata setengah ahli fikir Islam:
"Iman itu ialah perkataan dan perbuatan (qaulun wa'amalun). Artinya perkataan hati dan lidah dan perbuatan hati dan anggota!"
Sabda Nabi saw:
Sabda Nabi saw:
"Iman itu lebih dari enam puluh ranting, yang paling tinggi ialah kalimat: 'Lailaha illal Lah'. Dan paling rendahnya ialah membuangkan duri dari tengah jalan."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Firman Tuhan:
"Hanyasanya orang yang beriman itu ialah yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, kemudian itu tidak ada ragu-ragunya lagi, dan mereka berjihad dengan harta-benda dan diri mereka sendiri pada jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar pengakuannya."
(Al-Hujurat: 15)
Firman-Nya pula:
Firman-Nya pula:
"Hanyasanya orang mukmin (yang sejati) itu ialah yang apabila disebut orang nama Allah gemetar hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, bertambah-tambahlah iman mereka, dan bertawakkal mereka kepada Tuhan. Yaitu orang-orang yang mendirikan semabahyang dan menafkahkan rezeki yang Kami berikan. Itulah mukmin yang sejati."
(Al-Anfal: 2-3-4)
Firman-Nya lagi:
"Hanyasanya orang yang beriman itu ialah yang percaya dengan Allah dan Rasul-Nya. Kalau ada mereka pada suatu pekerjaan bersama-sama tidaklah mereka pergi saja (meninggalkan majelis) sebelum minta izin kepadanya."
(An-Nur: 62)
Iman Mutlak
Adapun Iman Mutlak, atau iman semata-mata, telah termasuk juga ke dalamnya Islam. Jadi adalah iman itu lebih umum dari Islam dan lebih meliputi. Tersebut di dalam Hadits shahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim bahwa seketika Rasulullah saw memberikan pengajaran Islam kepada utusan kaum Abdul Qais, beliau berkata: "Saya suruh kamu sekalian beriman kepada Allah. Tahukah kamu bagaimana iman kepada Allah itu? Iman dengan Allah ialah mengucapkan Syahadat, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruh-Nya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat dan menyisihkan seperlima dari harta rampasan perang akan dimasukkan kepada kas negeri. (Baitulmaal)!"
Di dalam Hadits ini nyata maksud perkataan setengah Ulama, di antaranya Ibnu Taimiyah, bahwa tiap-tiap orang yang beriman itu adalah dia Islam, tetapi tidaklah tiap-tiap orang Islam itu beriman.
Terang pula behwa arti iman dengan arti Islam jauh perbedaannya. Islam adalah bekas dari keimanan. Dalam Qur'an senantiasa disebut orang yang beriman dan beramal shaleh. Amal shaleh itulah Islam.
Bertambah nyata lagi pada suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Saiyidina Umar bin Al-Khathab, bahwa seketika Jibril datang merupakan dirinya sebagai seorang laki-laki, dia bertanya kepada Nabi saw:
"Apakah Islam?"
Jawab Nabi: "Islam ialah engkau ucapkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruh-Nya, mendirikan semabhyang, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan, naik haji kalau kuasa."
"Apakah Iman?"
"Iman ialah bahwa engkau percaya Allah, percaya adanya Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya dengan kebangkitan sesudah mati, dan percaya dengan takdir untung baik dan untung jahat, semuanya dari Allah semata-mata."
"Apakah Ihsan?"
"Ihsan ialah bahwa engkau beribadat kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia. Walaupun engkau tidak melihat Dia, namun Dia tetap melihat engkau."
Terang nyata kita lihat dari Hadits ini bahwa uratnya ialah iman, pohonnya Islam, dan disiram terus supaya subur dengan ihsan. Apa sebab maka iman dikatakan uratnya? Memang karena tidaklah orang suka mengerjakan amal, yaitu Islam kalau hatinya sendiri belum percaya. Maka tidak diterima Allah amal orang yang munafik, sebab hatinya sendiri tidak percaya, meskipun dia sembahyang.
Makanya iman itu bisa subur dalam hati, hendaklah tersingkir hati dari sifat-sifat takabur, hasad dan mencari kemegahan.
Takbur adalah sifat Fir'aun yang tidak mau menerima agama yang dibawa oleh Nabi Musa, sebab dipandangnya Musa itu hanya seorang anak yang masih muda yang bertahun-tahun lamanya menumpang di dalam rumahnya. Takabur itu pula yang menyebabkan banyak orang yang tidak mau percaya kepada seruan Nabi Nuh, tidak mengikut kepercayaan Tauhid, sebab dipandangnya Nabi Nuh itu seorang tiada terkenal dan dari kalangan orang yang biasa saja, pengikut-pengikutnya pun orang yang tiada harga.
Jika takabur menghalangi Fir'aun, maka hasad menghalangi iblis percaya kepada Adam. Masakan seorang yang dijadikan daripada tanah hendak melebihi orang yang terjadi dari api. Masakan orang yang baru dijadikan akan disembah oleh orang yang sekian lama menjadi penghulu malaikat lantaran tunduknya kepada Tuhan? Maka hasad itu menghabiskan amalan sebagaimana api menghabiskan kayu yang kering.
Kemegahan, kegilaan kepada pangkat yang sedang dipikul itu pula yang menghalangi Raja Heraclius akan beriman kepada Muhammad. Dia sudah tahu kebaikan Islam, tetapi lantaran takut pangkat dan kehormatannya akan jatuh di hadapan orang-orang besar dan rakyatnya, undur hatinya akan mempercayai Muhammad, padahal dia telah mendapat bukti yang cukup bahwa benarlah Muhammadlah Nabi yang ditunggu-tunggu di akhir zaman.
Fir'aun, Iblis dan Heraclius itu bukanlah kekurangan penyelidikan dan pengetahuan. Mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi keengkaran itu senantiasa terbit karena hawa nafsu.
Demikian pula orang Yahudi di zaman Rasulullah saw. Sebelum Muhammad diutus, mereka telah membaca di dalam Taurat, bahwa dia akan datang. Mereka kenal sebagaimana kenal akan anaknya sendiri. Tetapi setelah dia datang, mereka kafir dengan dia, lantaran hawa-nafsu juga. Malah orang Nasrani berani merubah Kitab Suci.
Maka semata-mata dengan pengetahuan saja, belumlah tentu orang akan beroleh keselamatan. Hendaklah ilmu itu menimbulkan percaya, percaya menimbulkan cinta, tidak diikat oleh dengki, yang dihambat oleh takabur atau hasad atau kemegahan sebagai perkataan Ibnu Ruslan:
"Orang yang alim kalau tidak mengamalkan ilmunya, adalah akan diazab sebelum orang yang menyembah berhala."
Untuk menjaga jangan sampai pengetahuan tidak diikuti oleh cinta, yang dihambat oleh takabur, hasad dan kemegahan itu, maka Rasulullah menunjukkan suatu do'a demikian bunyinya:
"Ya Tuhanku, bahwasanya aku berlindung pada Engkau dari hati yang tiada khusyu', dan dari Do'a yang tiada didengarkan Tuhan, dan dari nafsu yang tidak mau kenyang-kenyangnya, dan dari ilmu yang tiada manfaat!"
(Riwayat Tirmidzi)
Disuruhnya juga memohonkan:
"Ya Tuhanku, bukalah pendengaran hatiku kepada ingat akan Engkau dan beri rezekilah aku dengan taat kepada Engkau dan taat kepada Rasul Engkau dan mengamalkannya sepanjang yang tersebut di dalam kitab Engkau."
(Riwayat Tirmidzi)
Ingatlah bahwa:
"Do'a itu ialah benak (otak) ibadat!"
Satu golongan (firqah) dalam Islam bernama Jahamiyah, cabang dari partai Mu'tazilah, mempunyai pendirian tersendiri di dalam perkara ini. Mereka menyangka, bahwa semata-mata dengan telah tahu saja serta dibenarkan dengan hati, meskipun tidak dikerjakan, telah boleh disebut mukmin.
Pendapat itu dibantah orang.
"Qur'an telah menyatakan bahwa orang itu belum patut disebut mukmin."
Maka Jahamiyah menjawab:
"Maksud ayat ini bukan semata-mata mengatakan tidak beriman, tetapi maksudnya ialah mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan dalam hatinya."
Tentu pendapat itu mendapat bantahan keras dari firqah yang lain, terutama dari pemegang mazhab Salaf. Kalau faham Jahamiyah yang dipakai, tentu tidak ada disiplinnya lagi, longgar saja beragama ini asal percaya, cukuplah jadi mukmin. Sebab itu Imam Al-Waki' Ibnul Jarrah (Guru Imam Syafi'i), dan Imam Ahmad bin Hanbal, menghukumkan sesat faham Jahamiyah tersebut. Sebab sudah nyata bahwa banyak manusia yang mengerti bahwa kebenaran itu memang kebenaran, dan kesalahan itu memang kesalahan, tetapi dia tidak mau membuktikan pengetahuan itu karena beberapa sebab. Dalam kalangan bangsa Eropa yang menjajah negeri Timur, bukan sedikit yang percaya kebenaran Islam, tetapi tak mau memeluk Islam karena iba pada pangkat dan malu, atau karena dapat bisikan dari pemerintah yang lebih tinggi. Sebab itu tidaklah tiap-tiap orang yang menolak kebenaran itu tidak tahu bahwa yang ditolaknya itu benar adanya.
Sebab itu kokohlah tegaknya pendirian yang bermula tadi. Baru sah iman kalau telah diikut dengan amalan, dan amalan itulah Islam. Islam artinya menurut, menyerah, bukti menyerah itu ialah amalan. Ke situlah pulangnya perkataan Ulama Salaf yang mula-mula tadi, yang iman itu ialah ilmu dengan amal.
Dari yang telah tahu, tahu menimbulkan percaya, percaya menimbulkan tunduk dan menurut, maka timbullah amalan yang dikerjakan oleh anggota lahir. Kalau hati telah tunduk, diiringi oleh perbuatan, berhasillah apa yang dimaksud dengan iman dan Islam. Suatu perbuatan kalau tidak dikerjakan tandanya hati belum mau. Kalau hati belum mau tandanya syahadat yang disebut-sebut itu, hanya dari mulut saja, tidak dari hati.
Orang bertanya: "Abu Thalib cukup cinta kepada Nabi Muhammad saw, mengapa dia tidak masuk Islam atau mengamalkan Islam?"
Jawab: "Dia buka cinta kepada faham pengajaran yang dibawa Nabi Muhammad, tetapi yang dicintainya ialah anak adiknya yang bernama Muhammad. Yang dicintainya diri Muhammad, bukan pengajaran Muhammad. Cintanya bukan di dalam Allah, tetapi cinta di dalam kefamilian. Cinta kepada diri Muhammad, bukanlah jadi pangkal. Yang perlu lebih dahulu ialah cinta kepada faham yang dibawanya. Dengan sendirinya kelak, lantaran cinta kepada faham itu, akan menurut cinta kepada dirinya."
Sebab itu Abu Bakar berkata seketika Muhammad meninggal:
"Barangsiapa yang mencintai Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa yang mencintai Allah, Allah selamanya hidup, tidak mati-mati."
Abu Bakar itu sendiri, cinta kepada Muhammad adalah lantaran faham yang dibawanya, sebab itu setelah Muhammad meninggal, tidaklah dia berguncang sebagaimana guncang orang lain, Qur'an menyaksikan kecintaan Abu Bakar itu yang setinggi-tinggi cinta dalam Islam, yang harus menjadi tujuan dari segenap orang yang hidup.
"Akan dijauhi (neraka itu) oleh orang yang paling taqwa, yang mengeluarkan harta-bendanya lagi mensucikan (menzakatkan). Dan tidaklah seorang juga pada sisinya ni'mat (pemberian) yang meminta balasan, hanyalah semata-mata mengharapkan wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi."
(Al-Lail: 17-21)
Orang yang paling taqwa di sini - kata mufassirin - ialah Abu Bakar, yang diberi gelar As-Shiddiq, lantaran apa saja seruan Rasul saw dibenarkannya.
Demikian juga Umar, Ali dan sahabat-sahabat yang lain, menurut tingkatan masing-masing.
terkait bab: bahagia dan agama
(Al-Anfal: 2-3-4)
Firman-Nya lagi:
"Hanyasanya orang yang beriman itu ialah yang percaya dengan Allah dan Rasul-Nya. Kalau ada mereka pada suatu pekerjaan bersama-sama tidaklah mereka pergi saja (meninggalkan majelis) sebelum minta izin kepadanya."
(An-Nur: 62)
Iman Mutlak
Adapun Iman Mutlak, atau iman semata-mata, telah termasuk juga ke dalamnya Islam. Jadi adalah iman itu lebih umum dari Islam dan lebih meliputi. Tersebut di dalam Hadits shahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim bahwa seketika Rasulullah saw memberikan pengajaran Islam kepada utusan kaum Abdul Qais, beliau berkata: "Saya suruh kamu sekalian beriman kepada Allah. Tahukah kamu bagaimana iman kepada Allah itu? Iman dengan Allah ialah mengucapkan Syahadat, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruh-Nya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat dan menyisihkan seperlima dari harta rampasan perang akan dimasukkan kepada kas negeri. (Baitulmaal)!"
Di dalam Hadits ini nyata maksud perkataan setengah Ulama, di antaranya Ibnu Taimiyah, bahwa tiap-tiap orang yang beriman itu adalah dia Islam, tetapi tidaklah tiap-tiap orang Islam itu beriman.
Terang pula behwa arti iman dengan arti Islam jauh perbedaannya. Islam adalah bekas dari keimanan. Dalam Qur'an senantiasa disebut orang yang beriman dan beramal shaleh. Amal shaleh itulah Islam.
Bertambah nyata lagi pada suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Saiyidina Umar bin Al-Khathab, bahwa seketika Jibril datang merupakan dirinya sebagai seorang laki-laki, dia bertanya kepada Nabi saw:
"Apakah Islam?"
Jawab Nabi: "Islam ialah engkau ucapkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruh-Nya, mendirikan semabhyang, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan, naik haji kalau kuasa."
"Apakah Iman?"
"Iman ialah bahwa engkau percaya Allah, percaya adanya Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya dengan kebangkitan sesudah mati, dan percaya dengan takdir untung baik dan untung jahat, semuanya dari Allah semata-mata."
"Apakah Ihsan?"
"Ihsan ialah bahwa engkau beribadat kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia. Walaupun engkau tidak melihat Dia, namun Dia tetap melihat engkau."
Terang nyata kita lihat dari Hadits ini bahwa uratnya ialah iman, pohonnya Islam, dan disiram terus supaya subur dengan ihsan. Apa sebab maka iman dikatakan uratnya? Memang karena tidaklah orang suka mengerjakan amal, yaitu Islam kalau hatinya sendiri belum percaya. Maka tidak diterima Allah amal orang yang munafik, sebab hatinya sendiri tidak percaya, meskipun dia sembahyang.
Makanya iman itu bisa subur dalam hati, hendaklah tersingkir hati dari sifat-sifat takabur, hasad dan mencari kemegahan.
Takbur adalah sifat Fir'aun yang tidak mau menerima agama yang dibawa oleh Nabi Musa, sebab dipandangnya Musa itu hanya seorang anak yang masih muda yang bertahun-tahun lamanya menumpang di dalam rumahnya. Takabur itu pula yang menyebabkan banyak orang yang tidak mau percaya kepada seruan Nabi Nuh, tidak mengikut kepercayaan Tauhid, sebab dipandangnya Nabi Nuh itu seorang tiada terkenal dan dari kalangan orang yang biasa saja, pengikut-pengikutnya pun orang yang tiada harga.
Jika takabur menghalangi Fir'aun, maka hasad menghalangi iblis percaya kepada Adam. Masakan seorang yang dijadikan daripada tanah hendak melebihi orang yang terjadi dari api. Masakan orang yang baru dijadikan akan disembah oleh orang yang sekian lama menjadi penghulu malaikat lantaran tunduknya kepada Tuhan? Maka hasad itu menghabiskan amalan sebagaimana api menghabiskan kayu yang kering.
Kemegahan, kegilaan kepada pangkat yang sedang dipikul itu pula yang menghalangi Raja Heraclius akan beriman kepada Muhammad. Dia sudah tahu kebaikan Islam, tetapi lantaran takut pangkat dan kehormatannya akan jatuh di hadapan orang-orang besar dan rakyatnya, undur hatinya akan mempercayai Muhammad, padahal dia telah mendapat bukti yang cukup bahwa benarlah Muhammadlah Nabi yang ditunggu-tunggu di akhir zaman.
Fir'aun, Iblis dan Heraclius itu bukanlah kekurangan penyelidikan dan pengetahuan. Mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi keengkaran itu senantiasa terbit karena hawa nafsu.
Demikian pula orang Yahudi di zaman Rasulullah saw. Sebelum Muhammad diutus, mereka telah membaca di dalam Taurat, bahwa dia akan datang. Mereka kenal sebagaimana kenal akan anaknya sendiri. Tetapi setelah dia datang, mereka kafir dengan dia, lantaran hawa-nafsu juga. Malah orang Nasrani berani merubah Kitab Suci.
Maka semata-mata dengan pengetahuan saja, belumlah tentu orang akan beroleh keselamatan. Hendaklah ilmu itu menimbulkan percaya, percaya menimbulkan cinta, tidak diikat oleh dengki, yang dihambat oleh takabur atau hasad atau kemegahan sebagai perkataan Ibnu Ruslan:
"Orang yang alim kalau tidak mengamalkan ilmunya, adalah akan diazab sebelum orang yang menyembah berhala."
Untuk menjaga jangan sampai pengetahuan tidak diikuti oleh cinta, yang dihambat oleh takabur, hasad dan kemegahan itu, maka Rasulullah menunjukkan suatu do'a demikian bunyinya:
"Ya Tuhanku, bahwasanya aku berlindung pada Engkau dari hati yang tiada khusyu', dan dari Do'a yang tiada didengarkan Tuhan, dan dari nafsu yang tidak mau kenyang-kenyangnya, dan dari ilmu yang tiada manfaat!"
(Riwayat Tirmidzi)
Disuruhnya juga memohonkan:
"Ya Tuhanku, bukalah pendengaran hatiku kepada ingat akan Engkau dan beri rezekilah aku dengan taat kepada Engkau dan taat kepada Rasul Engkau dan mengamalkannya sepanjang yang tersebut di dalam kitab Engkau."
(Riwayat Tirmidzi)
Ingatlah bahwa:
"Do'a itu ialah benak (otak) ibadat!"
Satu golongan (firqah) dalam Islam bernama Jahamiyah, cabang dari partai Mu'tazilah, mempunyai pendirian tersendiri di dalam perkara ini. Mereka menyangka, bahwa semata-mata dengan telah tahu saja serta dibenarkan dengan hati, meskipun tidak dikerjakan, telah boleh disebut mukmin.
Pendapat itu dibantah orang.
"Qur'an telah menyatakan bahwa orang itu belum patut disebut mukmin."
Maka Jahamiyah menjawab:
"Maksud ayat ini bukan semata-mata mengatakan tidak beriman, tetapi maksudnya ialah mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan dalam hatinya."
Tentu pendapat itu mendapat bantahan keras dari firqah yang lain, terutama dari pemegang mazhab Salaf. Kalau faham Jahamiyah yang dipakai, tentu tidak ada disiplinnya lagi, longgar saja beragama ini asal percaya, cukuplah jadi mukmin. Sebab itu Imam Al-Waki' Ibnul Jarrah (Guru Imam Syafi'i), dan Imam Ahmad bin Hanbal, menghukumkan sesat faham Jahamiyah tersebut. Sebab sudah nyata bahwa banyak manusia yang mengerti bahwa kebenaran itu memang kebenaran, dan kesalahan itu memang kesalahan, tetapi dia tidak mau membuktikan pengetahuan itu karena beberapa sebab. Dalam kalangan bangsa Eropa yang menjajah negeri Timur, bukan sedikit yang percaya kebenaran Islam, tetapi tak mau memeluk Islam karena iba pada pangkat dan malu, atau karena dapat bisikan dari pemerintah yang lebih tinggi. Sebab itu tidaklah tiap-tiap orang yang menolak kebenaran itu tidak tahu bahwa yang ditolaknya itu benar adanya.
Sebab itu kokohlah tegaknya pendirian yang bermula tadi. Baru sah iman kalau telah diikut dengan amalan, dan amalan itulah Islam. Islam artinya menurut, menyerah, bukti menyerah itu ialah amalan. Ke situlah pulangnya perkataan Ulama Salaf yang mula-mula tadi, yang iman itu ialah ilmu dengan amal.
Dari yang telah tahu, tahu menimbulkan percaya, percaya menimbulkan tunduk dan menurut, maka timbullah amalan yang dikerjakan oleh anggota lahir. Kalau hati telah tunduk, diiringi oleh perbuatan, berhasillah apa yang dimaksud dengan iman dan Islam. Suatu perbuatan kalau tidak dikerjakan tandanya hati belum mau. Kalau hati belum mau tandanya syahadat yang disebut-sebut itu, hanya dari mulut saja, tidak dari hati.
Orang bertanya: "Abu Thalib cukup cinta kepada Nabi Muhammad saw, mengapa dia tidak masuk Islam atau mengamalkan Islam?"
Jawab: "Dia buka cinta kepada faham pengajaran yang dibawa Nabi Muhammad, tetapi yang dicintainya ialah anak adiknya yang bernama Muhammad. Yang dicintainya diri Muhammad, bukan pengajaran Muhammad. Cintanya bukan di dalam Allah, tetapi cinta di dalam kefamilian. Cinta kepada diri Muhammad, bukanlah jadi pangkal. Yang perlu lebih dahulu ialah cinta kepada faham yang dibawanya. Dengan sendirinya kelak, lantaran cinta kepada faham itu, akan menurut cinta kepada dirinya."
Sebab itu Abu Bakar berkata seketika Muhammad meninggal:
"Barangsiapa yang mencintai Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa yang mencintai Allah, Allah selamanya hidup, tidak mati-mati."
Abu Bakar itu sendiri, cinta kepada Muhammad adalah lantaran faham yang dibawanya, sebab itu setelah Muhammad meninggal, tidaklah dia berguncang sebagaimana guncang orang lain, Qur'an menyaksikan kecintaan Abu Bakar itu yang setinggi-tinggi cinta dalam Islam, yang harus menjadi tujuan dari segenap orang yang hidup.
"Akan dijauhi (neraka itu) oleh orang yang paling taqwa, yang mengeluarkan harta-bendanya lagi mensucikan (menzakatkan). Dan tidaklah seorang juga pada sisinya ni'mat (pemberian) yang meminta balasan, hanyalah semata-mata mengharapkan wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi."
(Al-Lail: 17-21)
Orang yang paling taqwa di sini - kata mufassirin - ialah Abu Bakar, yang diberi gelar As-Shiddiq, lantaran apa saja seruan Rasul saw dibenarkannya.
Demikian juga Umar, Ali dan sahabat-sahabat yang lain, menurut tingkatan masing-masing.
terkait bab: bahagia dan agama