dalam buku tasauf modern - buya HAMKA
pidato: senangkanlah hatimu
Pemimpin itu telah habis berpidato dan khutbahnya telah selesai; orang telah bercerai-cerai hendak menuju hidupnya masing-masing. Kiranya, kulihat beberapa jama'ah masih tinggal di sana, berdiri di kaki tugu yang tinggi itu, sedang menangis dan meratap. Padahal orang lain yang lalu dekat mereka, sedang tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba kelihatan berdiri di dekatku bayang-bayang, dia melihat kepadaku dengan rupa hendak bertanya. Dia pun berkata:
"Saya ini adalah semangat dari pidato yang dikeluarkan pemimpin tadi. Saya datang merupakan diri ke mari hendak melihat bekasku pada hati manusia yang mendengarkan daku," dia berkata.
"Kalau begitu engkaupun tahu apakah sebabnya orang-orang itu menangis!" kataku.
"Mereka menangis, karena inilah dinding ratap!" jawabnya.
"Mengapa mereka meratap, mengapa itu disebut dinding ratap, apakah mereka itu orang Yahudi? Apakah kita sekarang di Yerussalem?" tanyaku lagi.
"Kemanusiaan pun berdinding ratap pula, sebagai Yahudi mempunyai dinding ratap, tempat dia menangis dan menanyakan sesal!" jawabnya.
"Mengapa mereka menangis dan meratap sesudah mendengar pidato yang amat berarti dan penuh harapan, pidato yang menyatakan bahagia sejati itu?" aku terus bertanya.
Dia menjawab:
"Setengahnya menangis karena belum pernah mendengar pidato begitu. Setengahnya menangis lantaran telah pernah mendengar tetapi belum mengambil faedah daripadanya. Setengahnya lagi menangis lantaran telah pernah dia mendengar, telah pernah pula mengamalkan; sekarang dia meratapi nikmat yang telah hilang daripadanya, karena dia tak kuasa memegang teguh, sebab kencangnya ombak dan gelombang yang memukulnya, dari kenikmatan kepada putus pengharapan. Yang lain pula menangis lantaran melihat orang lain menangis. Demi jika sekiranya orang lebih banyak yang tertawa, tentu dia akan turut tertawa pula. Yang lain menangis untuk memperlihatkan kepada umum bahwa dia ada menaruh perasaan halus. Ada pula yang menangis karena di dinding yang telah runtuh-runtuh itu dilihatnya cita-cita yang patah; orang ini tukang meratapi barang yang rusak, tukang menyadar pusaka lama dan bekas kuno. Dan orang-orang yang mempunyai otak sempit, yang tak mau mengakui kalau mereka tak mengerti, dan kalau mengerti sekalipun, karena mereka hanya mencari kalau-kalau ada yang salah dan tergendeng. Orang ini lebih patut dikasihi daripada orang yang menangis itu."
"Nun di sana!" kataku pula, ada pula saya lihat dua orang tegak berdiri, tidak menangis dan tidak tertawa. Seorang laki-laki dan seorang perempuan, keduanya berjalan dengan langkah yang tetap, berbimbing-bimbingan tangan, mukanya ditekurkannya, matanya menunjukkan bahwa mereka sedang keras berfikir. "Siapa pulakah yang berdua itu?" tanyaku.
Diapun menoleh kepada kedua bayang-bayang orang itu seraya berkata:
"Yang berdua itulah bumi yang subur, itulah lilin kesucian yang memberi terang. Yang berdua itulah yang memahamkan, sebab itu mereka beroleh faedah!"
Dengan hati duka-nestapa aku berkata:
"Sayang, ... begitu indah pidato yang diucapkan, begitu meresap ke dalam jantung, begitu banyak pula orang yang mendengar, cuma, ..... cuma berdua orang mengambil faedah."
Mendengar itu timbullah cahaya yang ganjil, cahaya yang datang dari langit tergambar pada wajah bayang-bayang itu, dan berkata:
"Bukankah begitu, bahkan inilah pidato yang sangat berfaedah, pidato yang meresap ke hati kedua bayang-bayang tadi. Itupun pusaka mahal untuk segenap masa, pada kedua fikiran itu barang kuno akan diperbaru. Lantaran bahaya yang dari pelajaran itu, maka sirnalah keonaran dan kebusukan, timbullah cahaya yang hidup dari matahari falak dan matahari otak. Itulah pidato yang berarti, itulah pidato yang berharga."
Tiba-tiba bayang-bayang ini pun pergilah! Pergi menurutkan awan dan bayang-bayang khayal tadi, dirangkulnya kedua awan dan bayang-bayang khayal tadi, dirangkulnya kedua bayangan itu ke dalam dua sayapnya yang lunak dan halus, dibawanya keduanya terbang membumbung tinggi ke angkasa dalam pemeliharaannya dan perlindungannya.