Pages

Jumat, 13 Januari 2012

sekilas tentang salinan

Ketika melihat-lihat kembali pada apa yang telah saya salinkan, di blog yang saya tumpangi ini, ternyata tiadalah salinan itu kecuali sesuatu yang bermuara dari hal rasa menuju rasa. Rasa di sini adalah rasa yang biasa dialami oleh hati, atau, hal yang biasa disebut dengan perasaan.

Latar belakang kenapa saya menyalinkan hal yang bermuara pada rasa, adalah karena saya memang tertarik/cendrung saja untuk itu. Kenapa demikian? Saya tidak tahu jawabannya. Dan jika ada pertanyaan, "Kenapa kamu tidak tahu?", maka saya akan menyatakan kalau pertanyaan seperti itu juga ada dalam diri saya sendiri, untuk saya jawab sendiri, dan; saya belum memperoleh jawabannya. Atau, bisa jadi ini adalah bagian usaha saya sebagai pelajar untuk belajar mengenal diri sendiri, dan, melalui salinan-salinan seperti ini adalah sekedar berbagi dan berharap manfaat bagi siapa pun; utamanya saya sendiri. 

Oleh karena itu, dalam hal ini adalah apa adanya saya saja (bisa benar, atau salah) yang telah terpengaruh oleh banyak hal yang mungkin seperti; diri sendiri, lingkungan, waktu, pengalaman, bacaan, dan hal-hal lainnya; perjalanan saya. Tentu saja, semua itu adalah dalam kuasa Tuhan.
 
Dalam ketika saya memasukkan salinan, saya mencoba menimbulkan pertanyaan dan jawaban pada diri saya yang telah terpengaruh oleh banyak hal dalam perjalanannya itu. Saya menyalin apa yang saya pahami saja. Ketika saya menyalinkan tulisan/karya orang lain, berarti memang itulah diri saya yang telah terpengaruh dengan apa yang datang pada saya; atau saya yang sedang belajar dari/melalui orang lain atau lingkungan yang ada. 

Tentu saja dalam menetapkan benar atau tidaknya, saya membandingkan dulu dengan petunjuk Tuhan yang telah ada dalam Kitab-Nya yang tak ada keraguan lagi di dalamnya. Jika ada pengaruh yang saya ragukan, maka semampunya saya berusaha untuk mempelajarinya. Namun jika pengaruh itu sesuai dan saya yakini kebenarannya, maka saya mengikuti itu dan menjadikannya -mungkin- suatu prinsip. Untuk itu saya memohon pada Tuhan untuk ketetapan hati jika benar, dan jika salah saya memohon petunjuk-Nya.

Untuk salinan dari percobaan saya untuk berkarya sendiri yang telah tersalin itu, adalah dalam bentuk tulisan barisan puisi. Saya membuat dalam bentuk puisi adalah karena saya memang kurang pandai menyampaikan sesuatu yang terasa dalam bentuk tulisan berparagraf. Dan apakah karya saya itu boleh disebut puisi atau tidak, saya tidak tahu. Saya tidak begitu tahu apa itu puisi, tapi, untuk sederhananya saya sebut saja kalau karya saya itu adalah puisi. Dan, tiadalah salinan itu merupakan karya atau puisi saya, melainkan adalah kenyataan diri saya yang telah terpengaruh dengan berbagai hal dalam perjalanannya itu.
   
 
sedikit tentang rasa, terkait: sederhanakan rasa
Rasa adalah anugerah Tuhan yang sangat tinggi harganya. Walau tak dapat dilihat dengan mata, namun ia harus dipelajari dengan tujuan kebaikan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemukan kata-kata yang menunjukkan rasa. Setelah saya cari-cari, banyaknya kata yang terucap pada soal rasa tersebut, ternyata akan tertuju pada dua saja, yaitu; suka atau duka; atau bahasa lainnya, bahagia dan sedih. 

Jika tidak hati-hati dengan dua hal rasa tersebut, maka dapat membuat celaka. Seperti rasa bahagia yang tidak terkendali dapat menjadi kesenangan yang berlebihan, sehingga dapat melupakan Tuhan. Atau, seperti rasa sedih yang tak terkendali sehingga dapat membuat prasangka buruk pada Tuhan. Oleh karena itu, perlu ditanamkan rasa sabar dan ikhlas dalam merasakan bahagia ataupun sedih, agar hidup tidak celaka. Atau, menyederhanakan rasa.

Di dunia ini kita hidup tidak sendiri, kita hidup bersama dengan manusia lainnya. Setiap nyawa manusia tersebut dianugerahkan Tuhan rasa bahagia dan sedih. Untuk keseimbangan hidup bersama, diperlukan kesederhanaan rasa. Ketika kita merasa bahagia, kita harus ingat kalau orang lain ketika itu ada yang sedang merasa sedih. Dan ketika kita bersedih, orang lain ada yang sedang merasa bahagia. Dengan begitu, sadarlah kita kalau Tuhan Maha Adil, sehingga timbullah sikap peduli yang merupakan rasa kasih sayang dan saling menghargai sesama manusia.