dalam buku tasauf modern - buya HAMKA
Yakin artinya nyata dan terang. Yakin itu ialah lawan dari syak dan ragu-ragu. Maka tidaklah akan hilang syak dan ragu-ragu itu kalau tidak ada dalil atau alasan yang cukup. Dan datangnya yakin itu setelah memperoleh bukti-bukti yang terang. Keyakinan setelah datang menyelidiki, kadang-kadang tidak diselidiki lagi karena dalil itu cukup terbentang di hadapan mata. Cara mencapai dalil itu tidaklah sama di antara manusia. Banyak perkara yang diyakini oleh seorang, masih diragui oleh yang lain, sebab belum mendapat dalilnya. Tetapi dalam perkara yang terang misalnya alasan bahwa hari telah siang, atau dua kali dua empat, lekas orang meyakininya.
Lantaran itu maka ayat:
"Sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan."
(Al-Hijr: 99)
Ditafsirkan oleh setengah mufassirin: "Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu mati." Tafsir beginilah yang lebih mu'tamad.
Apakah sebabnya mereka artikan yakin itu dengan mati? Sebabnya ialah lantaran mati itu sudah yakin akan datang kepada kita, atau dengan kematian telah yakin datangnya ajal kita yang ditunggu-tunggu, seumpama dua kali dua sama dengan empat.
Yakin itu ialah sifat ilmu yang ketiga. Ilmu mempunyai tiga tingkatan atau sifat. Pertama ma'rifat, artinya tahu. Kedua dirayat artinya dialami. Ketiga yakin!
Kemudian Raghib membagi tiga pula tingkatan yakin itu:
- Ilmul-yaqin.
- Haqqul-yaqin.
- Ainul-yaqin.
Ilmul-yaqin artinya, ialah ilmu yang timbul dari pendapat yang lahir setelah beroleh dalil yang cukup. Setelah cukup dalil lalu dicubakan maka timbullah Haqqul-yaqin. Setelah mendapat haqqul yaqin, lalu disaksikan sendiri pula lalu naik tingkatan itu kepada Ainul-yaqin, itulah yang setinggi-tinggi derajat yakin.
Semua kita yakin negeri Mekkah ada, bernama Ilmul-yaqin. Dalilnya ialah kabar mutawatir yang senantiasa kita terima.
Lalu kita pergi ke Mekkah. Sesampai kita ke sana, kelihatanlah oleh mata kita Ka'bah itu, timbullah Haqqul-yaqin. Setelah itu kita thawaf kelilingnya, maka timbullah Ainul-yaqin. 10 pintu dipergunakan untuk mencapai ilmul yaqin. Lima pintu yang lahir yaitu pendengaran, penglihatan, perasaan lidah, perasaan kulit dan penciuman hidung, bernama pancaindera.
Untuk kesempurnaan perkakas yang lima pada lahir ini, disokong oleh lima peralatan yang bathin, yaitu akal, fikiran, kehendak, angan-angan dan nafsu.
Kedua-duanya (lahir dan bathin) bertali-tali. Misalnya orang sakit merasai benar-benar, bahwa kopi-susu itu pahit, tetapi akalnya tidak mau menerima walaupun lidahnya percaya sungguh akan kepahitannya. Kata mata kita - matahari itu kecil saja, kata timbangan akal dan fikiran lebih besar dari bumi. Dari pertarungan yang tidak berhenti-henti ini timbullah keyakinan. Dia sebagai kayu besar yang tumbuh dalam hati sanubari, dahannya ialah amal dan buahnya ialah ganjaran.
Perbedaan Yakin dengan I'tikad
I'tikad ialah kesimpulan pendapat fikiran. Keyakinan lebih daripada i'tikad karena keyakinan adalah setelah diselidiki. Tegasnya i'tikad tingkat pertama, keyakinan tingkat kedua. Sebab itu maka tiap-tiap keyakinan itu adalah i'tikad, tetapi tidaklah tiap-tiap i'tikad itu keyakinan.
Maka janganlah mempunyai i'tikad saja dengan tidak mempunyai keyakinan. Hendaklah i'tikad diuji dengan batu ujian keyakinan. Segala agama dan pendirian di dunia ini umumnya bernama i'tikad, tetapi tidak semuanya keyakinan pada zatnya.
Agama Islam adalah suatu i'tikad. Sebab itu hendaklah kita jalankan fikiran, bersihkan hati dan jiwa setiap pagi dan petang, siang dan malam, supaya dia jadi i'tikad yang diyakini.
terkait bab: bahagia dan agama
terkait bab: bahagia dan agama