Pages

Selasa, 10 Januari 2012

islam dan kemajuan

dalam buku tasauf modern - buya HAMKA

Tabiat manusia senantiasa suka kepada kelebihan yang ada pada dirinya sendiri, kelebihan badan kasar, keenakan tubuh, dan tabiatnya berusaha menolak segala bahaya yang akan menimpa dirinya. Pada dirinya ada 'kekuatan'. Dengan kekuatan itulah segala yang dicita-citakan akan dicapainya dan segala yang dibenci dijauhinya. Dengan cara demikian tercapailah kemajuan pri-kehidupan, bertemulah dengan riwayat bangsa manusia tampil ke muka dan tidak pernah undur ke belakang.

Meskipun bagaimana, kemajuan tidak bisa ditahan. Tetapi pemuka-pemuka agama mencuba menahan kemajuan itu, mencuba menghambat air yang hendak mengalir ke lautan. Mereka tidak memegang ubun-ubun bangsa dan mesti ikut segala aturan yang mereka buat menurut kehendak mereka. Mereka takut kalau manusia beroleh kebebasan akan terlepas dari cengkramannya. Sebab itulah mereka perbuat bermacam aturan-aturan dan undang-undang, mengatakan bahwa orang yang mencari kebahagiaan dalam dunia adalah sesat, orang yang tertipu oleh hawa-nafsu. Mereka perbuat pelajaran-pelajaran Zuhud, membenci dunia, padahal masih hidup dalam dunia, tidak peduli akan keadaan sekelilingnya atau di dalam alam sekalian. Sehingga kelihatan tiap-tiap orang yang telah berpegang dengan agama menjadi orang bodoh, dungu, tidak teratur pakaian dan kediamannya, tersisih dalam pergaulan. Padahal bukan begitu hakikat pelajaran agama yang hanya bikinan sempit faham kepala-kepala agama saja.

Banyak bangsa-bangsa yang dapat pelajaran agama yang demikian, jatuhlah derajat mereka sampai ke kuruk-tanah, lemah dan tertindas di medan perjuangan, tidak maju ke muka, tetapi surut ke belakang. Sehingga terbit persangkaan bahwa segala ibadat itu ialah menjauhi kesenangan badan kasar. Lantaran itu kalahlah fikiran dan akal, menanglah ragu-ragu dan syak wasangka, berlawan hukum agama dengan hukum kehidupan. Kepala-kepala agama memegang teguh pendirian ini tidak mau berkisar. Tidak mau melepaskan kuduk manusia dari pengaruh dan cengkramannya. Sebab itu terjadilah perang di antara kemajuan dengan agama; agama mengatakan kemajuan itu kafir, kemajuan mengatakan agama itu kebodohan. Perang yang tidak henti-hentinya, hebat selama-lamanya, payah didamaikan.

Islam membantah dan menentang segala teori buatan kepala-kepala agama itu. Dengan bukti cukup ditunjukkannya bahwa agama itu bukan musuh kemajuan, bahkan agamalah penuntun kemajuan, menempuh tujuan untuk perdamaian segala bangsa.

Allah berfirman:
"Katakanlah Muhammad, siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-Nya, dan siapakah yang menolak rezeki yang baik-baik?"
(Al-A'raf: 32)

Firman-Nya pula untuk jadi do'a:
"Ya Allah, berilah kami keselamatan di dunia dan beri pula kami keselamatan di akhirat, jauhkan kami daripada azab neraka."
(Al-Baqarah: 201)

Firman-Nya juga:
"Dan dikatakan kepada orang-orang yang taqwa; Apakah yang diturunkan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab: Ialah kebaikan, yaitu untuk orang yang berbuat baik seketika di dunia dengan suatu kebaikan, dan hidup di akhirat itu adalah lebih baik lagi. Di sanalah seindah-indah tempat bagi orang yang taqwa."
(An-Nahl: 30)

Karena kemajuan tidak akan tercapai dengan tiada ilmu, maka beratus ayat Al-Qur'an dan beratus Hadits menyerukan menuntut ilmu.

Apa saja macamnya, ilmu dunia dan akhirat, ilmu agama dan kemajuan, ilmu alam, ilmu bintang, ilmu membuat kapal, membuat mesin, membuat kapal-udara, membuat roket angkasa luar, membuat radio, membuat televisi, membuat listrik, memperbaru model alat perang dan seterusnya.

Semuanya disindirkan di dalam Al-Qur'an, bukan dilarang. Bukanlah orang Islam hanya disuruh menuntut istinjak, rukun bersuci, ilmu Hadits, ilmu Fiqih dan sebagainya saja.

Do'a seindah-indahnya di dalam Al-Qur'an dalam perkara menuntut ilmu ialah:
"Katakanlah: Ya Allah, tambahilah aku ilmu."
(Thaha: 114)