Pages

Minggu, 01 Januari 2012

kisah hamid bab penutup

dalam buku di bawah lindungan ka'bah - buya HAMKA

Kian lama kian sunyilah tanah Mekah. Bukit-bukit yang gundul itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang berangsur pulang ke kampungnya masing-masing. Toko kain sudah tutup, sebab enam bulan pula lamanya pasar akan sepi. Tidak putus-putusnya unta berarak-arak diiringkan oleh gembalanya bangsa Badui sambil bernyanyi.

Sehari sebelum kami meninggalkan Mekah, pergilah kami berziarah ke Pekuburan Ma'ala, tempat Hamid dikuburkan. Di sana masih bertemu nisannya, meskipun agak sukar mencarinya sebab telah banyak pula orang lain yang berkubur. Saya hadapkan muka saya ke pusara itu dan saya berkata:

"Hidupmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami.

Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta.

Allah adalah Maha Adil. Jika sempit dunia ini bagimu berdua, maka alam akhirat adalah lebih luas dan lapang, di sanalah kelak makhluk menerima balasan dari kejujuran dan kesabarannya, bukan mimpi dan bukan tonil.

Kami pun dalam menunggu titah pula, sebab ada masanya datang dan ada pula masanya pergi.

Selamatlah, moga-moga Allah memberi berkat atas jiwamu dan jiwa Zainab."

Pukul 4 sore kami tawaf keliling Ka'bah, "Tawaf Wada", artinya tawaf selamat berpisah. Sehari itu juga kami akan berangkat ke Jedah.

Saudaraku Saleh berlayar dengan kapal yang menuju ke Mesir.

Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju Tanah Air yang tercinta.