tak tergurat tangis dan tawa pada rupanya yang terdiam,
tampak dengan wajah yang penuh tanda tanya.
jangan dikira kosong pada tatapan murungnya!
ada gejolak dalam dadanya; prihatin dalam gelisah.
seperti gunung sedang terpana,
ketika bunga keindahannya dipatahkan tangan-tangan dunia,
tangan yang lupa atau salah memahami cinta,
sehingga terlupakan pada gunung yang merupakan sejatinya cinta.
kau lupa sebab cinta bukan hanya tertuju pribadi, kawan!
cinta bukan perkara keuntungan seorang saja,
bukan pula cinta ketika kau mendaki gunung lalu memetik bunganya;
kau pun tersesat sebab beralasan cinta hanya untukmu!
cinta adalah kau merasa bahagia pada gunung dengan bunganya,
rasa enggan mematahkan keindahannya.
sebab gunung dan bunganya ialah dirimu sendiri;
-cintamu- kawan!
ketika kau berjalan pada sejatinya makna cinta;
gunung dan bunganya pun merekah pada cintamu yang abadi,
gelisah pun redalah..
gelisah pun redalah..
namun!
ketika kau sesat meng-alasankan cinta;
gunung pun terabaikan hingga tiba ketika akhirnya kau,
menyalahkan kata cinta yang sebenarnya suci.
sehingga berguncanglah ia pada laharnya yang bergejolak,
cemburunya mulai memberontak!
cemburunya mulai memberontak!
tawa pun jadi tersurut sementara tangis mulai tertahan,
gelisah menjadi kawan sepi dan merupakan diri prihatinnya wajah,
murung bertambah bingung ketika gelisah tak memberi arti;
sebab hentakan langkah seperti merasa enggan,
atau, tak mampu membuat jejak.
lalu, haruskah menunggu muntahan lahar menyapa dulu?
di sela itu, kawan!
rasa syukur tetap menggema sebab kasihsayang-Nya jua;
pada ranting patah yang masih hidup ditumbuhkan lagi kuncup baru,
hingga getaran gejolak pun mereda yang entah berapa lama.
kesempatan yang tak bisa disia-sia,
melestarikan keseimbangan indahnya gunung dan bunga-bunga,
kembalikan kesucian makna damainya kata cinta!
lalu, haruskah menunggu muntahan lahar menyapa dulu?
di sela itu, kawan!
rasa syukur tetap menggema sebab kasihsayang-Nya jua;
pada ranting patah yang masih hidup ditumbuhkan lagi kuncup baru,
hingga getaran gejolak pun mereda yang entah berapa lama.
kesempatan yang tak bisa disia-sia,
melestarikan keseimbangan indahnya gunung dan bunga-bunga,
kembalikan kesucian makna damainya kata cinta!
sebab;
cinta itu sendiri ternyata tak terbatas perkara lelaki-wanita saja,
melainkan tulusnya kesetiaan pada titipan sang Pencipta,
keseimbangan alam serta sesama manusia.
begitulah nyatanya rupa cinta kepada sang Pencipta,
meliputi segala.
-----------------------------------
kenyataan membuat sadar bahwa kisah belum berakhir.
lupa atau pun pengingkaran masih nyata adanya,
tak terlepaskan pada diri sendiri pun juga.
lalu, bagaimanakah cara tertawa atau untuk menangis?
ya, bagaimana caranya tertawa sementara terasa jelas di jantung
ada jiwa-jiwa terluka yang sedang menangis.
dan bagaimanakah caranya menangis ketika tersadar
perjalanan belumlah sampai pada tetapan.
gelisah pun bersemayam jelas cenderung pada kepedihan.
walau air mata merasa enggan mungkin juga terbendung karang,
melangkahlah ia seperti murungnya, wajah prihatin!
jikapun terlihat tawa atau tangis di wajahnya terdiam;
adalah sekedar lupa atau ia sedang merasa berpura-pura.
mungkin juga, semampunya berusaha untuk menjaga.
sebab ia pun punya rasa dan mesti jadi bagian para pe-cinta!
bagaimanapun;
semua yang ada telah ditetapkan untuk terlibat di dalamnya.
perjalanan mencari sesuatu yang benar, kawan!
mempelajari dan untuk meyakinkan diri,
runtuhkan keraguan dalam berbuat dengan pasti!
------------------------------------
ya, jiwaku tak ragu mengatakan aku mencintaimu, saudaraku!
sebab kita tengah berada dalam anugerah Tuhan!
disalin: Padang, januari 2012
terinspirasi:
> do'a dalam sunyi - iwan fals
> untukmu terkasih - iwan fals
> gelisah - kantata takwa
> bongkar - swami
> dan lain-lain
> do'a dalam sunyi - iwan fals
> untukmu terkasih - iwan fals
> gelisah - kantata takwa
> bongkar - swami
> dan lain-lain