Pages

Sabtu, 14 Januari 2012

i'tikad

dalam buku tasauf modern - buya HAMKA

Apakah arti i'tikad? Dan apakah hubungannya dengan bahagia. I'tikad terambil dari bahasa Arab. Asal kalimat ialah daripada 'aqada dipindahkan kepada i'taqada, artinya ikatan. Kalau telah beri'tikad artinya hati manusia telah terikat dengan suatu kepercayaan atau pendirian.

I'tikad artinya berasal daripada mengikat tepi-tepi barang, atau mengikatkan suatu sudut kepada sudut yang lain. Jadi timbulnya I'tikad dalam hati, ialah setelah lebih dahulu fikiran itu terbang dan lepas entah ke mana, tidak berujung dan tak tentu tempat hinggap. Kemudian dapatlah suatu kesimpulan pandangan, lalu menjadi keyakinan. Terikat tidak retak lagi.

Sebab itu maka suatu pendapat yang tidak timbul dari pertimbangan akal fikiran yang hanya lantaran taklid buta, lantaran turut-turutan belumlah bernama i'tikad. Orang yang beri'tikad dalam suatu perkara tidaklah mau mengerjakan suatu atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan tidak berfikir. Kesimpulan fikirannya ialah i'tikadnya.

Keputusan i'tikad itulah yang diturutkan oleh diri. Kalau manusia melawan i'tikadnya, dikerjakan pekerjaan yang dilarang oleh i'tikadnya atau dihentikannya pekerjaan yang disuruhkannya, ketahuilah bahwa orang itu telah didorong oleh kekuatan lain bukan kekuatan asli dari kehendak jiwanya, melainkan kekuatan musuhnya, yaitu hawa-nafsunya.

Selama dia bekerja melawan i'tikadnya, selama itu pula hati sanubarinya memberontak melawan perbuatannya. Kalau perbuatan salah itu langsung timbullah rasa yang lain dalam diri, yaitu sesal.

Dalam bahasa Indonesia i'tikad itu telah berubah menjadi tekad.

Al-Qur'an menerangkan keadaan itu demikian:
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan keji, atau menganiaya dirinya sendiri maka ingat mereka akan Allah. Lalu mereka memohon ampun atas kesalahan itu. Siapa lagi yang akan mengampunkan kesalahan-kesalahan itu selain Allah, serta tidak tetap juga mereka atas perbuatan itu, sedang mereka telah tahu."
(Ali Imran: 135)

Demikian keadaan orang yang mempunyai i'tikad, kalau mereka terlanjur melakukan suatu kesalahan.

Orang yang tidak mempunyai i'tikad, adalah menjadi pucu aru, mengulai ke mana arah angin saja, ke mari bukan ke sana entah. Diputar dan dilentikkannya kumis kalau lawan belum kelihatan, diajaknya lawan itu berjuang kalau dia tegak sendiri. Tetapi kalau bertemu lawan itu di tempat yang lengang seorang sama seorang, tidak ada yang akan mengetahui, maka kumisnya itu dibarutnya turun. Dan kalau dia dimaki, dia diam saja, sebab dia katanya sabar!

Orang yang begini, meskipun bagaimana datang dan terangnya kebenaran di mukanya, tidaklah ada nilai hidupnya sebab kompas jantungnya telah rusak, sebab itu jarumnya tidak dapat menunjukkan Utara dan Selatan lagi. Jiwanya telah dimakan karat. Orang yang begini selamanya tidak akan mendapat i'tikad yang jernih, sebab fikirannya tidak bekerja lagi. Atau laksana arloji yang telah putus pernya, mestilah diperbaiki oleh tukang arloji yang pandai. Tetapi harus ingat, kalau sekali per itu telah rusak dan kerapkali diperbaiki, tentu jalannya tidak sebaik dahulu lagi.

Ada pepatah Arab:
"Peliharalah keindahan hati dari suatu penyakit,
Karena sukar sekali memperbaikinya
kalau sekali telah rusak."

Itulah sebabnya lebih banyak kita disuruh menjaga hati daripada mengobatinya. Karena ongkos penjagaan tidak sebanyak ongkos pengobatan.

terkait bab: bahagia dan agama