Pages

Rabu, 25 Januari 2012

pembalasan selalu sesuai dengan perbuatan

dalam buku pengantin surga - abul miqdad al-madani

Kisah ini mungkin dapat menjadi renungan untuk siapa saja yang selalu mengganggu wanita yang bukan haknya. Hati-hatilah mengganggu dan menggoda wanita. Pembalasan bisa jadi sangat mengejutkan Anda ...

Konon, di kota Bukhara - kota asal ulama hadits terkenal Imam Al-Bukhari - hidup seorang pembawa air minum. Orang ini telah 30 tahun lamanya selalu membawa air minum ke rumah seorang tukan emas. Istri si tukang emas itu ternyata seorang wanita yang sangat cantik jelita ... sangat sempurna. Dan lebih daripada itu, ia juga sangat taat beragama dan sangat menjaga kehormatannya.

Pada suatu hari, seperti biasanya sang pembawa air minum ini datang lalu menumpahkan air ke tempat biasanya. Di saat yang sama, secara kebetulan istri si tukang emas sedang tidur siang di tengah rumah. Tukang air itu mendekatinya ... lalu memegang tangannya ... membelainya. Lalu kemudian pergi diam-diam.

Ketika si tukan emas tiba di rumah, sang istri bertanya pada sang suami, "Aku ingin tahu apakah gerangan yang telah kau lakukan di pasar hari ini yang tidak diridhai Allah Ta'ala?"

"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab sang suami.

"Jika engkau tidak mau berkata jujur padaku dan memberikan yang sebenarnya padaku, maka aku tidak akan tinggal di rumahmu, dan jangan berharap akan melihatku lagi!" tegas sang istri.

"Baiklah, aku akan mengakuinya ... ketahuilah bahwa pada hari ini, seorang wanita datang ke tokoku untuk memesan sebuah gelang. Aku pun membuatkan sebuah gelang emas untuknya. Setelah gelang itu jadi, wanita itu kemudian mengeluarkan pergelangan tangannya, dan aku pun mengenakan gelang itu padanya. Saat itulah ... saat aku melihat tangannya ... aku terpesona oleh kulitnya yang putih dan keindahan lengannya ... aku pun mengelus tangannya ..." kata sang suami berterus terang.

Sang istri lalu berkata, "Allahu akbar! Mengapa engkau lakukan itu semua? Tidak mengherankan, ternyata laki-laki pembawa air yang biasa masuk ke rumah kita sejak 30 tahun lamanya ... yang tidak pernah sekalipun berkhianat pada kita ... hari ini ia memegang tanganku dan menciumnya!"

Maka sang suami pun tak dapat berbuat apa-apa selain meminta maaf, "Duhai istriku, semua ini kesalahanku. Maafkanlah aku ... tolong, maafkanlah aku."

"Semoga Allah menjadikan akhir setiap masalah kita dalam kebaikan," jawab sang istri.

Keesokan harinya, sang pembawa air minum itu datang dan melempar tubuhnya ke lantai, mengotori dirinya dengan debu, lalu bersimpuh di hadapan wanita itu dan berkata, "Wahai nyonya, mohon maafkanlah saya, syetan telah menggoda dan menyesatkan saya."

Wanita itu berkata, "Pergilah, karena kesalahan itu bukan darimu. Kesalahan itu disebabkan oleh pria pemilik toko emas itu. Pergilah padanya, dan mintalah qishash padanya atas kesalahannya ini ..." (Ibnaty Al-Habibah, hal.92)

Dan kisah ini sering berulang pada orang yang berbeda. Bila Anda mengganggu - dan "mengganggu" di sini mempunyai makna yang luas, dari "gangguan" yang ringan hingga "gangguan" yang berat - istri orang lain, atau putri orang lain, atau saudari orang lain, maka tunggulah saatnya dimana istri atau putri atau saudari, atau bahkan ibu Anda akan diganggu pula entah oleh siapa ...

Nabi saw pernah mengatakan, "I'mal maa syi'ta kamaa tadiinu tudaanu." Lakukan apa saja yang engkau lakukan, (namun ingat) bagaimana engkau berbuat begitu pulalah engkau akan dibalas.