dalam buku fenomena ayat-ayat cinta - anif sirsaeba el shirazi
Komitmen pada jalan yang kita yakini kebenarannya serta komitmen menyampaikannya pada orang lain ternyata bisa menjadi sumber kekuatan inspirasi untuk menulis. Benarlah M. Fauzil Adhim berkata dalam Dunia Kata-nya: "Apabila hatimu dipenuhi oleh kepedihan, keinginan yang kuat untuk menunjukkan orang lain kepada jalan yang kamu yakini kebaikannya, maka pikiranmu akan hidup. Gagasan bermunculan dan inisiatif akan saling bersusulan. Apa pun yang kamu lihat, akan selalu mengalirkan inspirasi ke dalam jiwamu sesuai dengan apa yang menjadi kegelisahanmu."
Kegelisahan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali kala melihat keangkuhan cara berfikir para filsuf yang sedemikian mengagungkan akal, yang menurutnya kurang pas, membuatnya menulis karya yang sangat terkenal sampai sekarang yaitu: Tahaafutul Falaasifah (Runtuhnya Para Filsuf). Dan pada abad berikutnya ketika Ibnu Rusyd menemukan hal-hal yang ia anggap janggal dalam Tahaafutul Falaasifah-nya Al Ghazali, ia lantas menulis tanggapan yang sangat masyhur di seluruh dunia sampai sekarang yaitu Tahaafutut Tahaafut (Runtuhnya Kitab Tahaafut). Belakangan ini ada seorang Doktor Filsafat di Mesir yang menulis buku membela tulisan Al Ghazali dan balik mengkritisi tulisan Ibnu Rusyd. Buku berjudul Tahafutut Tahafutit Tahaafut (Runtuhnya Kitab Tahaafutut Tahaafut).
Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melihat fenomena banyaknya kaum Muslimin yang mencampuradukkan ajaran Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan ajaran Islam, tergugahlah kesadarannya untuk menyampaikan kebenaran yang ia yakini. Maka ditulislah salah satu karyanya, sebuah kitab yang terkenal sampai sekarang, Iqtidha'ush Shirath Al-Mustaqiim.
Begitu juga dengan Syaikh Prof. Dr. Yusuf Qardhawi. Ulama besar jebolan Al Azhar University ini menulis karya-karyanya karena komitmennya pada kebenaran yang ia yakini. Tatkala melihat fenomena ketidakberesan dalam memandang, memahami dan menempatkan geliat kebangkitan umat Islam, ia langsung menulis buku yang luar biasa dahsyat isinya, yaitu Ash Shahwah Islamiyyah Baina Al-juhuud Wat Tatharruuf. Dan baru-baru ini dia mengeluarkan buku yang mendapat pujian dari para sejarawan, yaitu Taarikhuna Al Muftara 'Alaih (Sejarah Kita yang Tertuduh). Dalam buku ini beliau mengkritisi siapa pun yang tidak objektif dalam membaca sejarah kaum Muslimin. Termasuk para sejarawan Muslim klasik tak luput dari kritikannya.
Dan siapa yang tidak kenal dengan WS. Rendra. Sastrawan ini dikenal dengan puisi-puisinya yang sangat komitmen memperjuangkan apa yang ia yakini. Jika kita teliti dengan seksama, banyak karya besar yang lahir dari kekuatan yang bernama komitmen. Dan banyak dari karya itu, yang mempengaruhi perjalanan sejarah manusia.