dalam buku tasauf modern - buya HAMKA
Meskipun Islam tidak akan hapus dari dunia, namun dia mungkin hapus dari Indonesia kalau ummatnya tidak membelanya, demikian kata Almarhum K.H. Ahmad Dahlan. (Pendiri Muhammadiyah).
Orang yang kurang menyelidiki kata, bahwa agama itu berdasarkan perselisihan, tiap-tiap agama mengatakan pihaknya yang lebih benar, dan agama lain penuh dengan kesalahan.
Jika terjadi perselisihan suatu agama dengan agama lain, seorang arif budiman tidak akan mencukupkan langkahnya sehingga itu saja atau menyingkirkan diri. Pertikaian di antara itu menghendaki penyelidikan dan pemeriksaan yang teliti. Seorang penyelidik akan menyatakan buah penyelidikannya, kadang-kadang salah dan kadang-kadang benar. Kalau tidak ada penyelidikan, tentu orang tak dapat membedakan yang baik dengan yang jahat. Kalau tidak ada kesungguhan memeriksa, tentu tidak akan bertemu barang yang hilang.
Penyelidikan adalah tabiat manusia yang akil, itu sebabnya maka sudah beribu tahun agama-agama tersiar di dunia, padahal manusia belum berlindung kepada suatu agama saja. Hikmat kebenaran itu laksana berlian, mahal tetapi jauh tersembunyi.
Menurut Firman Tuhan:
"Kalau Tuhanmu berkehendak, tentu dijadikan-Nya segenap manusia ini menjadi ummat yang satu; sekarang mereka masih tetap berselisih saja, kecuali orang yang beroleh rahmat dari Tuhanmu."
(Hud: 118-119)
Berselisihlah orang yang belum masuk kelas penyelidikan; bebas dari perselisihan orang-orang yang mengorek rahasia itu sampai dalam, keringat keluar dari dahinya, lantaran menggali tanah mencari berlian.
Qur'an telah menyatakan semuanya itu. Manusia terjadi bergolong-golongan, tiap-tiap golongan lebih mencintai golongannya sendiri.
"Tiap-tiap partai lebih suka membanggakan kelebihan yang ada padanya."
(Ar-Rum: 32 dan Al-Mu'minun: 53)
Lantaran itu banyaklah perselisihan. Penganut suatu agama menyatakan suatu agama lain salah, agamanya yang betul. Orang Yahudi mengatakan orang Nasrani itu tidak ada tempat tegaknya, orang Nasrani mengatakan orang Yahudi tak beralasan, penduduk Islam sendiri pun tidak pula kurang yang berfaham demikian. Padahal segala perkara kelak akan diputuskan di hadapan Qadhi Rabbul Jalil, di hari kemudian.
Kedatangan Islam ke dunia adalah di zaman pertikaian di antara agama-agama sangat kerasnya, yang satu menghina yang lain, sepihak merendahkan lain pihak. Hanya sedikit golongan yang terlepas. Datang Islam ke dunia mencela segala penengkaran yang tak berujung itu. Islam menerangkan bahwa agama itu sekaliannya bukanlah kepunyaan manusia, tetapi kepunyaan Allah yang dibangun pada tiap-tiap zaman dengan perantaraan utusan-utusan-Nya. Dia ingatkan bahwa kedatangan Nuh, Ibrahim, Ismail sampai kepada Musa dan 'Isa, Sulaiman dan Daud, sampai kepada Muhammad, Salawat dan Salam pada mereka semuanya, hanyalah dari satu pihak, yaitu dari Tuhan. Pokok agama itu satu, agama yang didatangkan Musa, itu juga yang dibawa oleh 'Isa. Dan kedatangan Muhammad di belakang itu adalah menyambung dan mencukupkan pelajaran yang telah dibawa oleh Nabi-nabi yang terdahulu daripadanya. Agama itu satu ujud dan maksudnya, tidak dibangsakan kepada suatu keturunan sebagai Yahudi, dan tidak pula dibangsakan kepada suatu tempat sebagai negeri Nazareth, yaitu Nasrani. Ujud dan tujuannya satu, yaitu menyerahkan diri kepada Tuhan bulat-bulat, yang di dalam bahasa Arab dinamai Aslama, Yuslimu, Islaman (Menyerah).
Tanda pokok agama itu satu dinyatakan oleh Islam dengan terang-terang. Pokok itu ialah "Menyembah kepada Allah dan tidak mensyerikatkan-Nya dengan yang lain", dan tidak boleh mengambil Arbab (Tuhan) selain Allah.
Kata Islam, jika segala ahli kitab telah memalingkan mukanya kepada pelajaran ini, dia telah islam dengan sendirinya. Yang menjadi pangkal perselisihan segala penganut agama ialah karena ketinggalan pokok itu, yaitu lalai atau lupa bahwa maksud agama ialah menyembah Allah lain tidak. Keluarlah orang Nasrani dari peraturan ini setelah mereka memandang 'Isa adalah anak Allah dan menyamakan derajatnya dengan Tuhan, dan keluarlah Yahudi dari pelajaran ini setelah mereka katakan Uzair anak Allah, atau anak lembu (ijil) itu Tuhan. Dan penganut Islam sendiripun terlepaslah dari pelajaran yang murni ini bilamana ia lupa akan pokok agama yang pertama itu, lalu dia menuhankan kubur, makam, tugu dan lain-lain.
Tuhan berfirman:
"Mensyari'atkan Dia untuk kamu akan agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan barang yang Kami wahyukan kepada engkau dan barang yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan 'Isa, yaitu bahwa mendirikan kamu sekalian akan agama dan janganlah berpecah-pecah padanya. Tetapi orang yang memperserikatkan Tuhan merasa berat akan menurutkan seruan ini."
(As-Syura: 13)
"Katakanlah Muhammad! Hai ahli kitab, marilah kamu sekalian kepada kalimat yang bersamaan antara kami dengan kamu (padanya), yaitu bahwa tidak kita menyembah yang lain dari Allah dan tidak kita perserikatkan dengan Dia barang sesuatu, dan jangan mengambil setengah kita akan yang setengahnya menjadi Yang Maha Kuasa selain Allah. Kalau mereka telah berpaling kepada itu, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kita sekalian telah Islam."
(Ali Imran: 64)
Mulai Qur'an dibuka, pada halaman kedua telah tersebut bahwa orang yang muttaqin ialah orang yang percaya dengan yang ghaib, mendirikan shalat dan menafkahkan rezekinya. Kemudian itu percaya dia dengan yang diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada yang sebelum engkau, yaitu Nabi-nabi yang terdahulu. Seorang Muslim disuruh mempercayai Nabi, Kitab-kitab dan pelajaran yang dahulu. Jika terjadi perubahan dalam perkara ibadat dan pada ranting-rantingnya, itu adalah menurut tingkatan perubahan masyarakat dan kemajuan pri-kemanusiaan juga. Ketimbulan agama dalam alam dunia ini adalah laksana lahirnya seorang manusia, mula-mula ia keluar dari perut ibunya tidak berpakaian, kemudian bertambah besar dan bertambah akalnya, datang waktu mudanya dan waktu sempurna akalnya, sampai kelak datang kerusakan alam, yaitu kiamat. Di sanalah perhentian perjalanan agama itu.
Disuruh manusia mempergunakan akal dan fikiran, disuruh pula menyingkirkan perselisihan dan perkelahian lantaran berlainan pendapat. Bilamana perselisihan telah hilang dan hati telah kembali kepada petunjuk, penyelidikan telah sampai kepada akhirnya, niscaya Nur Ilahi akan datang dengan sendirinya. Itulah nikmat yang terkandung dengan kedatangan Rasul-rasul berganti-ganti, memimpin otak manusia supaya berfikir, sejak Nuh sampai kepada Muhammad; diajar dan dididik sampai mereka merdeka berfikir sendiri. Demi setelah tarikh kemajuan manusia itu cukup untuk dilepaskan bekerja sendiri, tidaklah Nabi-nabi itu akan datang lagi. Muhammad Penutup dari segala Maha Guru, dialah Rasul yang penghabisan. Sebab manusia semenjak zaman Muhammad, telah sanggup cerdas berfikir sendiri.