Pages

Selasa, 03 Januari 2012

memelihara kesehatan jiwa

dalam buku tasauf modern - buya HAMKA

Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan bathin. Itulah kekayaan sejati.

Beberapa banyaknya orang yang kaya harta, tetapi mukanya muram, dan beberapa banyaknya orang yang miskin uang, tetapi wajahnya berseri. Sekedar kekuatan dan usaha diri, begitu pulalah tingkatan kesucian yang akan ditempuh jiwanya.

Hidup kita adalah pertempuran dan perjuangan belaka. Asal bernama manusia, tidak akan sunyi dari kelemahan dan kesalahan. Kalau sejak dari dilahirkan, sampai masuk kubur, kita terjadi dalam kesucian, bebas dari kesalahan dan kealpaan, tentu tidak layak kita jadi manusia, sebab yang demikian adalah tabiat malaikat. Kita manusia mesti merasai nikmat istirahat sesudah kerja, kelezatan menghadap Tuhan kelak di akhirat ialah sehabis bertempur dengan ranjau-ranjau hidup yang ngeri pada hari ini.

Orang yang takut menghadapi kehidupan dan tidak berani menggosok dan mensucikan bathinnya, tidak akan kenal arti lezat. Belum ada kekayaan yang dicapai oleh seorang yang tidak menempuh beberapa kesulitan. Seorang pahlawan, mencapai titel pahlawan itu, dengan darah dan pedang. Seorang penganjur bangsa dan tanah-air, alim-ulama dan sebagainya, nampaknya mereka duduk di singgasana kemuliaan dengan senangnya, padahal mereka mencapai itu dengan susah payah. Demikianlah mencapai kemuliaan bathin.

Jika ada seorang pemuda beroleh kekayaan lantaran pusaka, tidaklah akan merasai nikmat harta pusaka itu, sebagai nikmat yang dirasai ayahnya di kala hidupnya dengan usah sendiri.

Mencari bahagia bukanlah dari luar diri, tetapi dari dalam. Kebahagiaan yang datang dari luar, kerapkali hampa, palsu. Orang yang begini kerapkali ragu, syak, cemburu, putus-harapan; sangat gembira jika dihujani rahmat, lupa bahwa hidup ini berputar-putar. Sangat kecewa jika ditimpa bahaya, sehingga lupa bahwa kesenangan terletak di antara dua kesusahan, dan kesusahan terletak di antara dua kesenangan. Atau dalam hal senang itu telah tersimpan kesusahan, dan dalam kesusahan telah ada unsur kesenangan.

Bertambah banyak kesenangan dan kebahagiaan yang datang dari luar diri, bertambah miskinlah orang yang diperdayakannya. Semasa pendapatan kecil, keperluan untuk penjaga yang kecil itu, kecil pula.

Setelah besar, berangsur pula besar keperluan. Bertambah luas, bertambah luas pula penjaga kehalusan itu. Sebab itu, amat banyak orang kaya dilihat pada lahir, miskin pada hakikatnya.

Di sini nyatalah arti yang sebenarnya pada kekayaan dan kemiskinan. Orang yang paling kaya, ialah yang paling sedikit keperluannya, dan orang yang paling miskin, ialah yang paling banyak keperluannya.

Pada suatu hari, seorang gadis-kecil meminta-minta di tepi jalan minta belas kasihannya, uang agak sesen dua. Nyonya kaya itu dengan rengut-cemberut kembali kerumahnya. Sampai di rumah didapatinya anaknya yang masih remaja jatuh sakit. Sekarang nyonya itu miskin, lebih miskin dari gadis yang minta-minta di tepi jalan tadi.

Gadis itu hanya perlu sesen dua sen, pembeli sebungkus nasi.

Nyonya itu perlu kepada kesehatan anak kesayangannya.

Sebab itu kalau yang dinamai bahagia, dikatakan barang yang datang dari luar, tidak ada satu makhluk yang kaya, semuanya miskin belaka. Yang kaya hanyalah Tuhan semesta alam.

Silaukah kita melihat seorang maharaja diraja, dengan pengawalnya yang banyak, khadamnya yang beribu, istananya yang permai, perhiasannya yang molek, gedungnya yang indah, isterinya yang cantik, dan puterinya yang menjual bunga majelis?

Tertipukah kita dengan penjagaan yang berjalan mundar-mandir keliling istana itu, mobil dan kendaraan yang boleh dipakai setiap saat?

Tertipukah kita melihat hamba rakyat merundukkan kepala bilamana pengangkatan baginda lalu di jalan raya?

Jangan tertipu, jangan!

Raja-raja itu, demikianpun orang-orang berharta dan berpangkat, orang yang kita lihat dari luar amat nikmat, sebetulnya di dalam kesengsaraan bathin yang tiada tepermanai. Keganjilan yang ganjil ialah waktu baru bertemu. Walaupun bagaimana ganjilnya, kalau sudah lama, dari sedikit ke sedikit timbullah bosan dan kecewa. Harta-benda mahal yang disangka berharga, lama-lama dipandang sebagai pasir. Itulah sebab banyak raja yang melemparkan kerajaannya dan memilih hidup sederhana, atau bertapa ke gua batu. Ada juga yang meminta lekas mati saja, supaya bertemu dengan nikmat yang abadi. Demikianlah raja-raja yang tidak dihinggapi penyakit tamak. Tetapi yang dihinggapi loba tamak, tidak merasa cukup dengan yang ada, merasa miskin dan merasa malu dengan kekayaan yang telah ada dalam tangan, karena masih dirasa sedikit. Sebab itu dia meminta ditambah lagi, sehingga berlonggoklah emas dalam taruhan. Kadang-kadang ayah payah mengumpulkan, datang anak membelanjakan dengan hati girang, tidak tahu bagaimana dahulunya kesusahan ayah mengumpulkan itu. Kadang-kadang pula, di keliling baginda berkumpul orang menunjukkan senyuman sebagai senyuman kancil, menjual tipuan dengan fitnah, mengambil muka dan sebagainya.

Abu Bakar As-Shiddiq berkata: "Orang yang paling sengsara di dunia dan di akhirat ialah raja-raja."

Apakah sebabnya tanya orang yang hadir. Lalu beliau terangkan: "Raja-raja kalau terus berkuasa, dia merasa yang di dalam tangannya belum cukup, yang kelihatan olehnya ialah yang di tangan orang lain saja. Ajalnya datang di dalam dia berangan-angan. Perasaan belas-kasihan lama-lama menjadi kurang, hasad karena sedikit bagiannya, benci atas kelebihan orang, mengeluh ketika dia mampu, kurang percaya terhadap orang lain, amat serupa dengan dirham lancung, serupa dengan uap tengah hari yang disangka air oleh musafir, padahal cahaya terik; pada lahirnya gembira, pada bathinnya sengsara. Kelak, bila umur sampai, janjian datang, hapuslah bayang-bayangnya. Ketika itu mulai dia dihisab dan dihitung, sedikit harapan akan diberi maaf."

Abu Bakar menutup bicaranya: "Janganlah benci kepada raja-raja, tetapi kasihanilah mereka."

Demikianlah halnya orang yang kaya dari 'luar' badan.

Tetapi kekayaan dan kebahagiaan di dalam badan, itulah kekayaan yang bertambah lama tidak bertambah usang, tetapi bertambah murni bercahaya, asal saja pandai menjaga, sebab dia pemberian Khalik yang suci. Kalau kita pupuk, uratnya seakan teguh, buahnya akan lezat sehingga kita jatuh kasihan melihat seisi dunia, sejak dari raja kepada menteri, orang kaya dan orang berpangkat lantaran tidak merasa nikmat dengan kenikmatan ini. Inilah kekayaan dan kerajaan hakiki yang tak lekang di panas dan tak lapuk di hujan.

Kasihanilah manusia yang mencari kekayaan ke luar badannya dan menghabiskan umurnya untuk itu yang tak kembali ke dalam bathinnya, mencari nikmat yang tersembunyi di situ. Sayangilah manusia yang mencuba hidup fana dan melupakan hidup baka. Hibailah orang yang lupa akan kekayaan kembaran jasmaninya, yaitu rohaninya, menghabiskan umur mengejar barang yang tidak dibawanya dari perut ibunya, dan tidak akan dibawanya pula pulang ke akhirat. 

Carilah yang dari 'luar' itu sekedar berguna untuk memupuk kesempatan yang dari dalam.