Pages

Jumat, 06 Januari 2012

kisah hamid bab seperuntungan

dalam buku di bawah lindungan ka'bah - buya HAMKA


Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja'far yang dermawan itu. Ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satu pun perbuatan umum di sana yang tak dicapuri oleh Engku Haji Ja'far. Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dengan rumah tangga Zainab. Dia yang telah membukakan pintu yang luas kepada saya memasuki rumahnya di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mau tak mau telah tertutup. Sebagai seorang lain, pertemuan kami tidak lekas sebagai dahulu lagi. Ah ... zaman semasa kanak-kanak, ia telah pergi dari kalangan kami dan takkan kembali lagi.

Belum berapa lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, yaitu penyakit dada. Kerap kali Zainab dan ibunya datang melihat ibuku, dan duduk di dekat kalanghulunya, sedang saya duduk menjaga dengan diam dan sabar. Kerap kali pula Mak Asiah berkata, "Ah, luka yang lama belum sembuh, sekarang datang pula luka baru. Belum lama saya menjagai suami saya sakit, sekarang saya mesti melihat pula sahabat saya menanggung sakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh."

Waktu itu Zainab diam dalam menungnya, di hadapan ibu yang sedang sakit, kerap kali ia melihat kepada saya dengan muka yang tenang, dan agaknya besertakan dengan nasib yang ditanggungnya sendiri. Tetapi sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya dan saya pun melihat pula, sehingga kedua mata yang hitam, seakan-akan terbayang berulang-ulang beberapa perkataan yang penting, meskipun lidah tiada sanggup menunjukkan artinya.

Mak Asiah pergi bersama Zainab, di meja mereka letakkan sepinggan bubur yang telah didinginkan, ditutup dengan sebuah piring kecil, untuk ibu, karena dia tak kuat makan nasi. Ketika dia akan pergi, dia berkata, "Jagalah dia baik-baik, jika dia bangun kelak, berilah bubur ini barang sesendok kecil."

"Baiklah Mak," kata saya.

Pintu mereka tutupkan baik-baik dan mereka pun pergilah. Setelah beberapa saat kemudian, ibuku mengembangkan matanya; di dalamnya hanya kelihatan tinggal cahaya dari kekerasan hati, padahal kekuatan telah habis.

Dicarinya saya dengan matanya yang telah kabur, tangannya yang telah tinggal jangat pemalut tulang itu mencapai-capai ke kiri ke kanan mencari tangan saya. Dengan segera saya berikan tangan saya, dipegangnya erat-erat dan dibawanya ke mulutnya serta diciumnya, lama sekali; dari matanya titik air mata yang panas.

"Hamid!" katanya, rupanya kekuatannya telah kembali sedikit; "Ibu hendak berbicara dengan engkau, penting sekali, Nak!"

"Lebih baik Ibu diam dahulu, Ibu terlalu payah."

"Tidak, Mid, kekuatan Ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan pembicaraan ini kepadamu."

"Apakah yang Ibu maksudkan?

"Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahasia pada dirimu."

"Rahasia apa Ibu?"

"Engkau cinta pada Zainab!"

"Ah tidak Ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta kepadanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal 'cinta'. Anakanda takkan memperbuat barang yang sia-sia dan percuma, anakanda tahu bahwa jika anakanda mencurahkan cinta kepadanya takkan ubahnya dengan seorang yang mencurahkan semangkuk air tawar ke dalam lautan yang mahaluas; laut takkan berubah sifatnya karena semangkuk air tawar itu."

"Wahai Anak, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan, bahwa engkau sedang diserang penyakit cinta. Takut akan kena cinta, itulah dua sifat dari cinta; cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu ketakutan, cinta itu kerap kali berupa putus harapan, takut, cemburu, iba hati dan kadang-kadang berani. Di hadapan Ibumu yang telah lama merasai pahit manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku masih terang benderang.

Anakku, ... sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurutkan pendapat otak. Dia belum bercahaya sebelum mendalam. Kalau dia telah mendalam, kerap kali -kalau yang kena cinta tak pandai- ia merusakkan kemauan dan kekerasan hati laki-laki. Kalau engkau perturutkan tentu engkau menjadi seorang anak yang putus asa, apalagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya ...

Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan ditimbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang.

Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi, artinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumah tangga orang di sana. Meskipun ibu Zainab seorang perempuan yang penuh dengan budi pekerti, tentu saja kebaikannya kepada kita tidak lagi sebagai di masa suaminya hidup. Apalagi kaum kerabat mereka yang bertali darah, sudah banyak yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumah itu, yaitu orang-orang yang baru tiada mengenal kita.

Memang Anak, ... cinta itu 'adil' sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah dicap dengan 'derajat bawah' atau 'orang kebanyakan', sedang mereka diberi nama 'cabang atas', cabang atas adakalanya karena pangkat dan adakalanya karena harta benda. Cincin emas, orang merasa sayang hendak memberi bermata kaca, tentu zamrud dan nilam juga. Orang merasa sayang membuang emas, akan pengikat batu yang sudah diasah oleh rantai perintang-rintang hatinya, karena lama menanggung dalam penjara.

Meskipun Zainab suka kepada engkau ... karena agaknya batinnya suci dari perasaan takbur dan mengangkat diri, tidaklah langsung kalau ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka, bermufakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai dan tolan. Kalau mereka tak sepakat, waktu itulah kelak engkau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu. Sebab waktu api belum besar tidak engkau padamkan lebih dahulu.
   
Tidak ada, yang lebih baik daripada melupakan hal itu sebelum ia mendalam. Sebab cinta kepada orang yang demikian, adalah laksana cinta arwah ayahmu hendak kembali ke dunia, karena ia berbesar hati melihat engkau telah besar. Ia tahu dan ia melihat segala apa yang kejadian dalam dunia ini, dan ingin sekali hendak datang. Tetapi sayang ... alam dunia telah terbatas jauh sekali dengan alam barzakh ..."

Lama saya termenung mendengarkan  pembicaraan ibu itu, pertama karena amat dalam penyelidikannya kepada paham hidup ini, kedua memikirkan kekuatan jiwanya yang timbul, seakan-akan ada malaikat yang memimpin dia sedang berbicara, yang tidak saya sangka-sangka akan sejelas itu. Beberapa saat antaranya saya pun menjawab: "Terima kasih, Ibu, nasihat Ibu masuk benar ke dalam hatiku, semuanya benar belaka, sebenarnya sudah lama pula anakanda merasa yang demikian, sehingga dengan hati sendiri anakanda berjanji hendak melupakannya. Yang amat ajaib ialah peperangan di antara otak dan hati. Beberapa saat dia dapat dilupakan dan hati mengikut dengan patuh apa kehendak otak. Tetapi bila kelihatan rumah tangganya, atau kelihatan rupanya sendiri, dan kadang-kadang bila namanya disebut orang, hati lupa akan perintah otak, ia kembali berdebar ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Ini yang kerap kali mengalahkan anakanda."

"Ah Anakku, pandai benar engkau mewartakan nasibmu kepada ibumu! Mengapa engkau segila itu benar, padahal agaknya engkau belum mengetahui bagaimana pula perasaan Zainab kepada dirimu?"

"Wahai Ibu, coba anakanda tahu bahwa cintaku mendapat sambutan dengan semestinya, agaknya tidaklah akan separah ini benar luka hatiku. Karena cinta yang dibalas itulah obat yang paling mujarab bagi seorang anak muda dalam hidupnya, takkan lebih pintanya daripada itu. Hati anakanda akan besar dan merasa beruntung, jika anakanda ketahui bahwa air mata anakanda yang selama ini telah banyak tercurah, tidak bagai air yang tenggelam di pasir; bahwa pengharapan dalam menuju hidup tak terhambat di tengah jalan; bahwa cita-cita hendak memandangi langit tidak dihalangi oleh awan. Cinta anakanda kepadanya, bukan mencintai tubuhnya dan bentuk badannya, tetapi jiwa anakandalah yang mencintai jiwanya. Kecintaan anakanda bukan pula karena kepandaian menyusun surat-surat kiriman. Kebebasan pergaulan bisa ditutupi dengan perangai yang dibuat-buat dan kepintaran mengarang surat dapat pula menyembunyikan kepalsuan hati. Anakanda mencintai Zainab karena budinya; di dalam matanya ada terkandung suatu lukisan hati yang suci dan bersih."

"Anakku, sudah tinggi pikiranmu rupanya, sudah dapat engkau menerangkan perasaan hati dengan perkataan yang cukup, sudah menurun kepada dirimu kelebihan ayahmu. Ibu tak dapat menyambung perkataan lagi, ... perkataanmu hanya, ibu sambut dengan air mata. Hanya kepada Tuhan ibu berharap, mudah-mudahan Dia memberikan anugerah dan perlindungan akan dirimu. Dia yang telah menanamkan perasaan itu ke dalam hatimu, Dia pula yang berkuasa mencabutnya. Mudah-mudahan itu hanya suatu khayal, suatu angan-angan yang kerap kali mempengaruhi hati anak muda-muda, yang dapat hilang karena pergantian siang dan pertukaran malam."

"Mudah-mudahan," jawab saya.

Demikianlah nasihatnya kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya yang kelihatan kepayahannya menyelesaikan nafas yang turun naik, kadang-kadang dilihatnya saya tenang-tenang dan dingangakannya mulutnya segikit minta minum. Obat-obat tak memberi faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberikan nasihat itu, datanglah masa yang ditunggu-tunggunya, masa perpindahan dari alam yang sempit kepada alam yang lapang. Sementara saya asyik meminumkan obat, di tangan kanan saya terpegang sendok dan di tangan kiri terpegang gelas, ia melihat kepada saya tenang-tenang, alamat perpisahan yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimat baka, bersama dengan kepergian nyawanya ke dalam alam suci, yang di sana manusia lepas dari segala penyakit.

Saya tercengang dan seakan-akan bingung, di tangan kanan saya sendok masih terpegang, di tangan kiri gelas berisi obat; saya lihat ke atas meja, di sana terletak beberapa botol yang telah kosong dan ramuan dukun yang telah layu, limau manis yang diantarkan oleh Zainab pagi hari itu baru diusakinya seulas, lebihnya masih tinggal terletak di atas meja. Waktu itulah baru saya insaf, bahwa itu bukanlah perkara sendok dan gelas, bukan perkara obat dan ramuan, tetapi perkara ajal semata-mata ...

Sekarang saya sudah tinggal sebatang kara dalam dunia ini!