dalam buku tasauf modern - buya HAMKA
Asal arti hawa ialah angin atau gelora. Dia ada pada tiap-tiap manusia. Dia hanya gelora, tidak berasal.
Di dalam perjuangan melawan hawa-nafsu, manusia terbagi 3 (tiga) bagian:
1. Yang kalah dirinya oleh hawa sampai ditahan dan diperbudak oleh hawa itu sendiri dijadikannya Tuhan.
"Adakah engkau lihat (Muhammad) orang yang mengambil hawanya menjadi Tuhannya?"
(Al-Furqan: 43)
Tuhan ialah yang disembah dan diikuti perintahNya.
2. Peperangan antara keduanya berganti-ganti, kalah dan menang, jatuh dan tegak. Orang yang berperang berganti kalah dan menang inilah yang patut disebut 'Mujahid'. Kalau dia mati di dalam perjuangan itu, matinya mati syahid, di dalam pertempuran perang dengan musuh lahir saja, musuh hawa itulah yang besar. Rasulullah saw setelah kembali dari peperangan besar bersabda kepada sahabat-sahabatnya:
"Kita ini kembali dari peperangan yang paling kecil, menuju peperangan yang lebih besar."
Setelah ditanya orang beliau menjawab peperangan dengan hawa nafsu, itulah perang yang paling besar.
Pernah pula orang bertanya kepada Rasulullah: Apakah perang yang paling utama ya Rasulullah? Beliau menjawab: "Engkau perangi hawa-nafsumu."
Sabda Rasulullah saw untuk mencukupkan bagaimana besarnya bahaya hawa-nafsu:
"Bukanlah orang yang gagah berani itu lantaran dia cepat melompati musuhnya di dalam pertempuran, tetapi orang yang berani ialah orang yang bisa menahan dirinya dari kemarahan."
(Dirawikan oleh Abu Daud)
Derajat yang kedua ini derajat pertengahan, di atasnya ialah derajat Nabi-nabi dan Wali-wali.
3. Orang yang dapat mengalahkan hawanya, sehingga ia yang memerintah hawa bukan hawa yang memerintahnya, tidak bisa hawa mengutak-atikkannya, dia yang raja, dia yang kuasa, dia merdeka, tidak terpengaruh; tidak diperbudak hawa.
Rasulullah saw bersabda:
"Tidak seorang pun di antara kita yang tidak bersetan, saya sendiri pun ada juga bersetan tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya menghadapi setan saya itu sehingga dia saya kalahkan."
(Dirawikan oleh Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdurrahman As-Sulami)
Umar bin Khattab juga mendapat derajat yang hampir meningkat ini, karena Rasulullah saw pernah bersabda kepada Umar:
"Demi Tuhan yang menguasai diriku di dalam tanganNya, tidaklah bertemu engkau dengan setan pada suatu jalan, melainkan menyingkirlah setan itu kepada jalan lain yang tidak engkau lalui."
(Dirawikan oleh Muslim dan Saad bin Abi Waqash)
--------------------
Kalau manusia kurang hati-hati, tergerincirlah dia, sangkanya dia sanggup memerdekakan diri dari pengaruh setan, dia percaya akan dirinya sendiri, dia akan sanggup berjuang dengan setan atau dengan hawa; padahal dengan tidak diinsafinya dia telah terpengaruh oleh setan, dan hawa-nafsu. Bahkan kadang-kadang dirinya sendiri telah jadi setan dengan tidak disadarinya; karena yang diikutinya bukan perintah Tuhan yang tidak setuju dengan kehendak nafsunya, diputarnya, didalihnya, dibajuinya dengan baju agama. Kadang-kadang orang yang lancar lidahnya berpidato, tidak gugup naik podium sanggup memegang pimpinan kumpulan dan orang banyak, padahal dia menurutkan hawa-nafsu. Apa saja tipuan yang dilakukannya kepada orang banyak, diberinya cap "atas nama agama", "demikian firman Allah", demikian "titah Rasul" tidak boleh dilanggar, siapa melanggar berdosa. Padahal ayat dan Hadits itu hanya diambilnya, penguatkan hawanya. Bukan hawanya yang ditaklukkannya, kepadaAl-Qur'an dan Hadits.
Tuan bertanya:
"Apakah tandanya guru-guru agama, atau pengajar yang tidak dipengaruhi hawa-nafsu?
Tandanya ialah:
1. Dia mengajak orang lain "lil Lah" (karena Allah) bukan supaya diikut orang juga hendaknya. Sebab kewajibannya menyampaikan dan yang memberi hidayat ialah Tuhan Allah.
2. Bukan menyeru untuk diri. Menyeru mengajak kembali kepada Tuhan.
3. Insaf bahwa dia hanya manusia, tidak cukup, dan tidak lebih dari orang lain, jika dia pimtar, ada pula yang lebih pintar darinya.
Tanda-tandanya:
Jika dia sedang mengajar, memberi wa'az, atau sedang berpidato, ada pula orang di tempat lain yang lebih baik perjalanannya atau lebih tinggi ilmunya, lebih disegani orang daripadanya atau sama; bagaimanakah perasaan hatinya? Bagaimanakah sikapnya?
Kalau dia suka cita atau gembira bersyukur kepada Allah lantaran ada orang lain yang bekerja sebagai pekerjaannya menyiarkan ilmu pengetahuan kepada ummat, itulah sebagian tanda bahwa ia telah dapat mengalahkan nafsu.
Jika sebaliknya, maka tidaklah lebih tingkat orang ini dari manusia biasa yang berlain hanya pekerjaannya. Yang setengah tukang dengar, dan dia tukan pidato, tetapi sama masih diperintah hawa-nafsu. Bahkan kadang-kadang orang yang diberi pelajaran lebih dahulu faham daripada yang memberi.
Maka hal ini bukanlah buat menyelidiki orang lain. Tetapi menyelidiki diri kita sendiri. Bertambah tinggi martabat diri orang, bertambah banyaklah dia mengintai dirinya sendiri.
Saiyidina Abu Bakar As-Shiddiq ra pernah berkata:
"Bunuh sajalah saya, karena saya ini tidak lebih baik daripadamu."
Dan Saiyidina Ali bin Abi Thalib pernah dipuji orang bermuka-muka. Maka beliaupun murkalah sambil berkata:
"Saya lebih tahu hakikat diriku."